Pagelaran wayang kulit di pabrik Mexolie Panjer tahun 1951
Tradisi Kirab Budaya Ruwat Bumi Panjer
setiap bulan Sura/Muharram yang kembali dihidupkan sejak tahun 2010
lalu ternyata sangat disakralkan dan dijadikan simbol kesuksesan oleh NV. Oliefabrieken Insulinde/Mexolie Kebumen
yang ketika itu masih dalam kekuasaan Belanda. Bahkan setelah
perundingan Konfrensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949 dimana sebagai
konsekwensinya Mexolie kembali dikelola oleh Belanda hingga tahun 1958
tradisi suran Kirab Budaya Ruwat Bumi Panjer menjadi keharusan. Tradisi
ini terus berlangsung hingga tahun 1980. Setelah Penyerahan pengelolaan
Mexolie dari pemerintah Belanda kepada Indonesia pada 1958, Mexolie
diubah namanya menjadi Sarinabati.
Tradisi Kirab Panjer pada masa lalu sangat sakral dan meriah. Diawali
dengan penyembelihan “kerbau bule” yang kemudian kepalanya dikirab
mengelilingi pabrik Mexolie diiringi alunan musik gamelan diteruskan
dengan penguburan kepala kerbau di salah satu lokasi sakral di dalam
pabrik. Setelah prosesi tersebut, agenda selanjutnya adalah pagelaran
wayang kulit di halaman pabrik Mexolie. Kegiatan ini diikuti oleh
seluruh keluarga besar Mexolie dan warga masyarakat dengan sangat
antusias dan khidmat.
Seiring berjalannya waktu, kirab ini dihentikan tanpa sebab yang
jelas (sejak pergantian direksi pada tahun 1980). Mulai saat itu pula,
Sarinabati yang dahulu merupakan pabrik minyak pertama dan terbesar di
Indonesia (bahkan satu – satunya yang masih ada hingga kini) mengalami
kemunduran hingga akhirnya bangkrut dan ditutup pada tahun 1986.
Dengan dihidupkannya kembali Tradisi Kirab Budaya Ruwat Bumi Panjer
setiap bulan Sura/Muharram, diharapkan ada feedback positif baik di
bidang budaya lokal maupun kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat
dan tentunya semakin membangkitkan kembali kesadaran dan semangat
kecintaan terhadap NKRI yang selama ini terninabobokan. Salam Pancasila!
Oleh: Ravie Ananda
Kebumen, Senin Kliwon 9 Juni 201
Kebumen, Senin Kliwon 9 Juni 201
Tidak ada komentar:
Posting Komentar