Penegakkan Kedaulatan
Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak akan berarti jika kekuasaan
pemerintah masih berada di tangan Jepang. Pada waktu itu Jepang memang
masih merasa menguasai pemerintahan. Tentaranya masih bersenjata (untuk
daerah Kedu Selatan, tentara-tentara Jepang berada dalam kesatriaan –
kesatriaan PETA, instansi pamong praja, pabrik – pabrik, serta lembaga
tertentu meski jumlahnya tidak banyak). Dengan demikian, hal yang mutlak
harus segera dilakukan adalah merebut senjata dan peralatan militer
dari tangan Jepang.
Pengambilalihan Kekuasaan dari Tangan Jepang
Secara formal, Jepang sudah tidak mempunyai kekuasaan lagi di
Indonesia sejak menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14
Agustus 1945. Namun, dalam kenyataannya Jepang masih berkuasa atas
pemerintahan hingga waktu penyerahan secara resmi kepada Sekutu. Adanya
keadaan tersebut menimbulkan suatu gerakan pengambilalihan kekuasaan
oleh para pejuang RI dari berbagai elemen terhadap pemerintah Jepang
baik sipil maupun militernya secara serempak di berbagai wilayah di
Indonesia.
Pengambilalihan kekuasaan dari tangan Jepang khususnya di Kedu Selatan adalah sebagai berikut:
- Pada jajaran Kepolisian yang justru merupakan satu-satunya instansi bersenjata, pengambilalihan berlangsung dengan baik tanpa pertumpahan darah. Hal tersebut terjadi karena Jepang yang bertugas di tubuh Kepolisian termasuk golongan yang mengikuti realita. Maka, jadilah Polisi Jepang menjadi Polisi RI yang ditandai dengan diturunkannya bendera Jepang dan dikibarkannya Sang Merah Putih.
- Dalam tubuh pamong praja yang pada tiap kabupaten ditempatkan seorang opsir (biasanya berpangkat Mayor) pun tidak beraksi, sehingga pengambilalihan kekuasaan berlangsung sesuai dengan naskah Proklamasi yang menyatakan bahwa “Hal – hal yang mengenai pemindahan kekuasaan diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya”.
Seperti halnya pada jajaran Kepolisian, jajaran Pamong Praja dari
Bupati, Wedana, Asisten Wedana, sampai dengan Lurah berikut para
pegawainya, otomatis menjadi Bupati, Wedana, Asisten Wedana, Lurah, dan
Pegawai Republik Indonesia. Dengan demikian terbentuklah Kabupaten,
Kawedann, Asistenan, Kelurahan Republik Indonesia, ditandai dengan
dikibarkannya Sang Merah Putih.
- Pada jajaran pemerintahan lainnya yang terdiri dari dinas – dinas dan jawatan, seperti: Pekerjaan Umum, Kesehatan, Jawatan Kereta Api, Pendidikan dan Pengajaran, Pertanian, Perekonomian, dan Kehewanan, pengambilalihan kekuasaan berlangsung dengan seksama dan tanpa kekerasan. Yang terjadi semata – mata hanyalah pergantian nama, yang semula dinas atau jawatan Pemerintahan Bala Tentara Dai Nippon, menjadi dinas atau jawatan Pemerintah Republik Indonesia. Biasanya ditandai dengan dikibarkannya Sang Merah Putih di depan kantor, sehingga pegawai – pegawainya pun otomatis menjadi Pegawai Republik Indonesia. Walaupun demikian, tentara Jepang tidak begitu saja menyerahkan senjatanya dengan sukarela kepada pejuang RI.
Tidak semua pengambilalihan kekuasaan dari Jepang dapat dengan mudah
dilakukan. Ada beberapa peristiwa pengambilalihan kekuasaan yang
didahului secara diplomasi dengan didukung oleh pasukan siap tempur
apabila diplomasi mengalami kegagalan. Misal yang terjadi di Pabrik
Minyak Mexolie Kebumen (PMK Sari Nabati di desa Panjer) dan di Pabrik
Minyak Olvado Karanganyar.
Dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR)
Dalam suasana siaga menghadapi berbagai kemungkinan sebagai
konsekwensi dari Proklamasi 17 Agustus 1945, maka pada tanggal 23
Agustus 1945 keluarlah Seruan Presiden RI sebagai berikut:
“ Saya berharap kepada kamu sekalian, hai prajurit – prajurit
bekas PETA, Heiho, dan Pelaut serta pemuda-pemuda lain, untuk sementara
waktu, masuklah dan bekerjalah pada Badan Keamanan Rakyat. Percayalah
nanti akan datang saatnya kamu dipanggil untuk menjadi prajurit dalam
Tentara Kebangsaan Indonesia…”
Berdasarkan seruan Presiden tersebut, segenap jajaran pemerintahan di
daerah segera mengadakan pertemuan untuk membahas dan mengambil langkah
– langkah lanjutan dengan berpedoman dan memperhatikan petunjuk yang
telah digariskan dari tingkat atasnya, antara lain:
- Badan Keamanan Rakyat (BKR) ditempatkan dalam wadah Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKP) yang dibina oleh Komite Nasional Indonesia (KNI) di daerah – daerah.
- Tugas BKR adalah menjaga keamanan rakyat setempat.
Rakyat terutama pemuda para bekas prajurit PETA, Heiho, KNIL, Pelaut
serta pemuda lain yang tergabung dalam berbagai organisasi kepemudaan
dan kelaskaran menanggapi dan menyambut baik Seruan Presiden dengan
perasan lega, karena wadah untuk berjuang telah jelas tersedia.
Pembentukan melalui berbagai proses dan melalui sejumlah tahapan. Di
daerah tingkat kabupaten diadakan musyawarah koordinasi antara bekas
Opsir Peta yang tertinggi pangkatnya dengan Bupati dan Kepala Polisi
Negara Kabupaten untuk memecahkan berbagai masalah guna melaksanakan
Seruan Presiden tersebut, dimana hasilnya sebagai berikut:
- Segera diadakannya pemanggilan kepada para bekas prajurit PETA, Heiho, Pelaut, KNIL, dan pemuda lain di kampung – kampung atau desa – desa, agar berkumpul pada tanggal dan tempat yang telah ditentukan.
- Pemanggilan dilakukan oleh Camat ditujukan kepada Kepala Desa/Lurah setempat melalui Kurir Khusus yang pada tiap hari membawa surat-surat dari kecamatan ke desa/kelurahan. Yang dimaksud dengan Kurir Khusus adalah pamong desa yang secara bergiliran dari desanya, tiap hari berdinas jaga (piket) di Kantor Kecamatan, yang sekaligus menjadi Rumah Dinas Camat. Dengan cara ini, berita panggilan cepat sampai pada alamat yang dituju, meski di pelosok dan gunung – gunung sekali pun. Cara pemanggilan itu ditempuh berhubung keterbatasan jumlah radio saat itu.
- Mengenai konsumsi BKR di tingkat Kabupaten menjadi tanggung jawab Bupati selaku Ketua BPKKP Kabupaten, Wedana untuk tingkat Kawedanan, dan Camat untuk tingkat Kecamatan.
- Mengenai persenjataan, berasal dari pinjaman Kepala Polisi setempat.
- Mengenai akomodasi, sejumlah gedung yang ada milik siapa pun sementara waktu boleh digunakan oleh BKR.
Perebutan Senjata Dari Tangan Jepang
Perebutan senjata dari tangan tentara Jepang tidak hanya bertujuan
untuk melumpuhkan Jepang, tetapi juga untuk mempersenjatai pejuang
Indonesia. BKR maupun barisan – barisan para pejuang lain, terpaksa
harus merebut senjata sebagai jalan tercepat guna mempertahankan
kemerdekaan bangsa. Peristiwa tersebut terjadi di berbagai daerah antara
lain:
- Pencarian Senjata di Krendetan dan Prembun
Eks Shodancho Sarwo Edhie (Mertua dari Presiden RI Susilo Bambang
Yudhoyono) dan eks Shodancho Sroehardoyo menuju ke Krendetan, tempat
pertahanan meriam Jepang yang kuat. Mereka menduga Jepang menyembunyikan
senjata di sini. Dengan tekun mereka mencari, tetapi tidak berhasil.
Pencarian diteruskan ke Prembun (Kebumen), langsung menuju ke rumah
Shidokan yang dikenalinya waktu di pasukan PETA. Dalam sumur, ditemukan
satu dus peluru Karaben Steier. Peluru kemudian dibersihkan dan dijemur
sambil berharap karebennya ditemukan. Usaha itu gagal, sehingga mereka
pun pulang.
- Perampasan Senjata di Stasiun Kereta Api Kutoarjo
Berita pelucutan senjata Nakamura Butai oleh BKR di Magelang,
mendorong Sroehardoyo meneruskan usaha pencarian senjata. Ketika itu
Sarwo Edhie telah pindah ke Batalyon A. Yani di Magelang. Sroehardoyo
menuju pantai Ayah yang di era Jepang merupakan pertahanan pantai.
Ternyata usaha tersebut pun gagal. Saat pulang dengan menggunakan kereta
api dari Kroya yang datang dari Jakarta, diketahui bahwa ada satu kompi
tentara Jepang yang akan ke Yogyakarta, berada dalam kereta yang sama.
Sroehardoyo duduk di bordes terakhir, memikirkan cara melucuti
Jepang. Stasiun demi stasiun sudah dilewati. Gombong, Karanganyar, dan
Kebumen, tetapi belum juga menemukan caranya. Tidak seorang pun bisa
ditanya. Terlintas dalam pikiran, jika sampai di stasiun Kutoarjo tidak
menemukan cara, maka kesempatan memperoleh senjata pun akan hilang.
Ketika kereta akan masuk stasiun, terlihat BKR dan Pemuda Pelajar
Kutoarjo siap mengadakan pengamanan. Sudah menjadi ketentuan bahwa bila
ada pasukan Jepang yang lewat, harus diadakan pengamanan ketat.
Sroehardoyo tergugah. Apalagi dia bertemu dengan eks Chudancho Sarbini
di stasiun. Sroehardoyo pun segera mengutarakan maksudnya. Ia sadar jika
menggunakan kekerasan akan menemui kesulitan. Maka Sroehardoyo pun
menggunakan cara diplomasi yang ternyata disetujui Sarbini.
Perundingan berjalan lancar. Hasil dari perundingan tersebut, Taicho
(Pimpinan) Jepang memberi komando “So Juwo desu” (senjata keluarkan).
Hanya saja Taicho minta agar perwiranya tetap boleh mempertahankan
samurainya. Hampir saja pistol tidak diserahkan. Untung Taicho kemudian
menyerahkan 3 pucuk pistol. Dengan lega Sroehardoyo dibantu BKR Kutoarjo
dan BKR Kereta Api yang bertugas di stasiun Kutoarjo, antara lain
pemuda Soekadaroh, mengurus pengangkutan senjata ke BKR Purworejo.
Sedangkan eks Chudancho Sarbini melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur
bersama pasukan Jepang.
Senjata rampasan sebanyak satu kompi tersebut merupakan senjata
pertama, embrio Resimen XX/Kedu Selatan. Peristiwa menggembirakan
tersebut dirayakan BKR Purworejo dengan show of force berkeliling
kota bersenjata lengkap dengan sangkur terhunus pada pagi harinya.
Mereka membuktikan bahwa BKR bukan lagi “macan kertas” (peristiwa ini
menjadi dasar acuan dijadikannya stasiun Kutoarjo sebagai bangunan cagar
budaya).
- Pelucutan Senjata di Kebumen
Pelucutan senjata di Kebumen dilakukan oleh BKR, pemuda, dan pelajar
dipimpin oleh eks Chudancho Soedrajat. Dengan kekuatan 400 orang
bersenjata bambu runcing dan senjata lain, mereka meruntuhkan mental
Jepang. Pelucutan senjata berlangsung tanpa perlawanan. Orang – orang
Jepang selanjutnya dimasukkan ke dalam rumah tahanan di penjara Kebumen.
Pelucutan senjata di kota Kebumen berlangsung di empat tempat yakni:
1. Pabrik Minyak Kelapa Mexolie Kebumen (PMK Sari Nabati Panjer kebumen).
2. Jalan Pahlawan (sebelah barat kantor BRI).
3. Jalan Kranggan Kebumen.
4. Jalan Aseman/Jenderal Sarbini (sekarang depan Kantor DPU).
- Pelucutan Senjata di Karanganyar
Pelucutan senjata di Karanganyar berlangsung di Pabrik Minyak Olvado
dilakukan oleh BKR dan pemuda berkekuatan 300 orang dengan bersenjata
bambu runcing. Pelucutan dipimpin oleh eks Bundancho Bambang Widjanarko
dan eks Bundancho Koedoes yang menjatuhkan mental tentara Jepang
sehingga penyerahan lima pucuk senjata berlangsung tanpa perlawanan.
- Pelucutan Senjata di Sumpyuh
Pelucutan senjata di Sumpyuh melibatkan hampir semua pasukan BKR di
Kedu Selatan, yakni : BKR Kebumen, Gombong, Kutoarjo, dan Purworejo,
dipimpin oleh Daidancho Gatot Soebroto, Koordinator BKR Daerah Banyumas.
Selain pasukan BKR, dalam pelucutan tersebut ikut pula lebih kurang
300 orang pemuda bersenjata bambu runcing. Dengan penuh semangat dan
rela berkorban, mereka bergerak bersama BKR Gombong yang dipimpin oleh
eks Shodancho Soedarsono Bismo dan eks Shodancho Slamet Soebyakto
(sebagai komandan dan wakil komandan peleton). Sedangkan yang menjadi
komandan regu adalah eks Bundancho Djoerdjani, eks Bundancho Bagyoto,
eks Bundancho Yatiman, dan eks Bundancho Soemarto. Mereka berhasil
memperoleh sebuah truk Dodge, sepucuk SMR (Senapan Mesin Ringan), 40
senapan, dan puluhan pakaian seragam Jepang.
Pasukan BKR Kebumen dengan kekuatan satu kompi dipimpin oleh eks
Shodancho H. Soegondo dan wakil eks Shodancho Soedarmin. Adapun Komandan
Peleton I adalah eks Shodancho Dimyati (terakhir sebagai mantan Lurah
Kebumen), Peleton II eks Bundancho Soemari, dan Peleton III eks
Bundancho Soegito. Bertindak sebagai Komandan Regu adalah eks Bundancho
D.S. Iskandar, eks Bundancho Soediro, eks Bundancho Soenaryo, dan eks
Bundancho Solichin. Mereka berhasil memperoleh sebuah sepeda motor,
sedan Chevrolet, pick up, 3 buah truk, 3 pucuk SMR, 60 pucuk senapan,
dan 15 peti peluru.
Pasukan BKR Kutoarjo dengan kekuatan satu peleton dipimpin oleh eks
Shodancho M. Toegiran dengan komandan – komandan regunya eks Bundancho
Senoe, eks Bundancho Soedarman, dan eks Bundancho Badroen berhasil
memperoleh sebuah truk Australia dan 40 senapan.
BKR Purworejo juga mengerahkan dua peleton pasukan dipimpin oleh eks
Shodancho Sanoesi, Seksi I eks Bundancho Soesilo Handoyo, Seksi II eks
Bundancho Soewaridjan, dan Komandan Regu diantaranya eks Bundancho
Soewandi. Mereka memaki dua truk Ghurka ke Sumpyuh dan berhasil
memperoleh lebih kurang 50 senapan pendek yang dipakai PETA.
Sejak saat itu, BKR di Kedu Selatan, baik BKR di Gombong, Kebumen,
Kutoarjo, Purworejo kekuatan senjata dan angkutannya bertambah. Hal ini
menambah pula rasa percaya diri dan semangat tempur dalam perjuangan
mempertahankan Kemerdekaan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.
Dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Kedu Selatan
Dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dilatarbelakangi oleh
ketidakpuasan para anggota BKR dan pemuda pejuang karena Pemerintah RI
belum juga membentuk suatu tentara nasional Indonesia yang resmi. Mantan
Opsir KNIL yang berpangkan Mayor di jaman Hindia Belanda, Oerip
Soemohardjo pun sampai berkata “Aneh suatu Negara zonder tentara”. Oerip
merupakan satu-satunya opsir bangsa Indonesia asli yang mendapat
pangkat tertinggi hingga masa berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia
pada tahun 1942. Ia lahir di Guron, Sindurejan, Purworejo pada tanggal
21 Februari 1893. Orang tuanya bernama Soemohardjo, seorang mantri guru
(cucu dari KRT. Widjoyokusumo Adipati Trenggalek; dengan kata lain Oerip
adalah Cicit dari KRT. Poerbonegoro Bupati Ambal Kebumen yang pertama
dan terakhir).
Maklumat Pemerintah Tanggal 5 Oktober 1945
Akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah RI mengeluarkan maklumat sebagai berikut:
“Untuk memperkuat perasaan keamanan umum, maka diadakan satu Tentara Keamanan Rakyat”.
Maklumat ini disusul dengan Pengumuman Pemerintah tanggal 7 Oktober 1945 yang berbunyi:
“Ini hari telah dilakukan pembentukan Tentara Kebangsaan di salah
satu daerah di Jakarta dengan maksud untuk menyempurnakan kekuatan
Republik Indonesia”.
Pemuda-pemuda bekas Peta, Heiho, Keigun, dan pemuda dari Barisan
Pelopor telah menyiapkan tenaganya, agar setiap waktu dapat membaktikan
tenaganya untuk menentang kembalinya penjajah Belanda. Pemuda-pemuda dan
Tentara Kebangsaan itu dengan segera diperlengkapi dengan persenjataan,
agar dengan jalan demikian dapat mempertahankan keamanan umum.
Dua hari setelah dikeluarkannya Pengumuman Pemerintah tersebut,
segera disusul dengan seruan Mr. Kasman Singadimedja selaku Ketua Komite
Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang isinya sebagai berikut:
“Untuk menjaga keamanan rakyat pada dewasa ini oleh Presiden
Republik Indonesia telah diperintahkan pembentukan Tentara Keamanan
Rakyat. Tentara ini terdiri atas rakyat Indonesia yang berperasaan penuh
tanggung jawab atas keamanan masyarakat Indonesia dan guna menjaga
kehormatan Negara Indonesia.
Pemuda dan lain-lainnya yang tegap sentosa badan dan jiwanya,
bekas prajurit PETA, prajurit HIndia Belanda, Heiho, Kaigun Heiho,
Barisan Pemuda, Hisbullah, pelopor dan lain-lainnya, baik yang sudah
maupun yang belum pernah memperoleh latihan militer supaya
selekas-lekasnya mendaftarkan diri pada kantor BKR di ibukota kabupaten
masing-masing atau kepada badan-badan lainnya yang ditunjuk oleh Residen
(kepala darah) atau wakilnya. Merdeka!!!
Maklumat, Pengumuman Pemerintah dan Seruan Ketua KNIP tersiar ke
seluruh negeri. Semakin jelaslah bagi rakyat, terutama pemuda yang sejak
awal berniat mengabdikan dirinya untuk berjuang melalui kesatuan
bersenjata. TKR mendapat sambutan hangat, tidak hanya dari pemuda yang
telah tergabung dalam BKR, tetapi juga pemuda-pemuda lainnya. Hal ini
terbukti dengan banyaknya unsur pegawai negeri, swasta, guru, pelajar,
petani, pedagang, dan santri yang tadinya belum masuk ke dalam BKR,
berbondong-bondong masuk TKR. Sehingga apabila tidak diadakan pembatasan
peneriman saat itu, pasti kekuatan TKR sangat besar.
Kepala Staf Umum TKR, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo menyusun TKR
dengan 10 Divisi di Jawa dan 6 Divisi di luar Jawa. Satu di antara 10
Divisi TKR di Jawa adalah Divisi V di bawah pimpinan Kolonel Soedirman
(dikemudian hari dikenal sebagai Panglima Besar Jenderal Soedirman) yang
berkedudukan di Purwokerto meliputi daerah Kedu, Pekalongan, dan
Banyumas.
- Bengkel Senjata Kebumen
Para pejuang bersenjata di Kedu Selatan terus berupaya keras untuk
menambah persenjataan yang dimiliki dengan berbagai cara. TKR Batalyon
III Resimen Moekahar Kebumen mengetahui bahwa di ACW Bandung terdapat
sejumlah alat dan mesin selain senapan, pistol, mitraliur, granat yang
tidak atau belum dipindahkan dan tidak dibumihanguskan. Atas saran
Kepala Bagian Persenjataan Batalyon Letnan II Iskandar dan saran teknis
Letnan II Tirtohoedoyo, maka Mayor Rahmat, bersama Letnan II Iskandar
dan Letnan II Tirtohoedoyo pergi ke Bandung untuk mengambil dan
memindahkan alat – alat dan senjata ke Kebumen.
Mereka dikawal oleh satu kompi pasukan yang dipimpin oleh Kapten
Soegondo, Letnan I Dimyati (terakhir sebagai Lurah Kebumen), dan Letnan
Muda Pratedjo. Pemindahan dilakukan dengan menggunakan truk dan kereta
api. Mereka berhasil memindahkan beberapa pucuk senjata, 30 mesin bubut,
dan sejumlah alat produksi lain. Alat – alat tersebut kemudian dibawa
ke kompleks Sekolah Teknik (ST) Kebumen untuk melengkapi alat-alat yang
telah ada sebelumnya dan selanjutnya digunakan sebagai alat memproduksi
senjata, baik senjata tajam maupun senjata api, seperti : pedang panjang
(model samurai Jepang), pedang biasa, pistol, pistol mitraliur, kaki
Senapan Mesin Ringan dan kaki Senapan Mesin Berat untuk Pasukan Anti
Serangan Udar (PASU) 12.7 dan M 2.3.
Dengan demikian Batalyon III/Kebumen memiliki bengkel senjata.
Senjata – senjata yang dihasilkan digunakan untuk melengkapi persejataan
badan perjuangan di Kedu Selatan, agar potensi dan semangat juang
meningkat.
Tenaga yang dilibatkan dalam kegiatan produksi senjata terdiri dari:
- 24 orang Guru Sekolah Teknik Kebumen diantaranya; Sanoesi, Haroen, Soedjangi, Dalilan, dan Badaruzzaman.
- 100 orang siswa Sekolah Teknik Kebumen.
- 200 orang personil yang dipindahkan dari Bandung.
Personil dari Bandung pada umumnya telah berkeluarga. Mereka membawa
keluarganya tinggal di Kebumen. Keberhasilan produksi senjata di Kebumen
merupakan prestasi yang langka. Namun hal tersebut juga menjadi beban
bagi kesatuan tingkat batalyon. Karenanya, bertepatan dengan
penandatanganan Persetujuan Linggarjati tanggal 25 Maret 1947, atas
pertimbangan Resimen dan Divisi, bengkel senjata Kebumen kemudian
diserahkan ke Kementerian Pertahanan RI. Begitu juga dengan personilnya,
sebagian besar masuk ke TRI (Tentara Republik Indonesia), termasuk
siswa di ST Kebumen. Sedangkan guru ST Kebumen kembali bekerja seperti
semula.
TKR Batalyon I Moekahar/Purworejo tidak ketinggalan pula berupaya
menambah senjata. Senjata yang berhasil diproduksi adalah granat yang
terkenal dengan sebutan Granat Gombyok. Granat ini adalah hasil karya
Letnan II Soenarto (mantan Sersan KNIL) yang ditugaskan di bagian
persenjataan Batalyon I Resimen Moekahar. Granat Gombyok mendapat
sambutan dan dukungan baik oleh Komandan Batalyon I Resimen Moekahar
Mayor Koen Kamdani dan selanjutnya diproduksi secara masal.
Granat Gombyok pada masanya benar – benar memasyarakat. Bengkel
Granat Gombyok di Batalyon I/Purworejo pun akhirnya diserahkan kepada
Kementerian Pertahanan RI di Yogyakarta.
Perubahan Nama Dan Peningkatan Status TKR
Berdasarkan Penetapan Pemerintah No. 2 Tanggal 7 Januari 1946, maka
nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) diubah menjadi Tentara Keselamatan
Rakyat (TKR). Ini berarti bahwa Tentara Keamanan Rakyat hanya berumur 93
hari, yakni sejak tanggal 5 Oktober 1945 hingga 7 Januari 1946.
Perubahan Nama TKR menjadi TRI
Berdasarkan Penetapan Pemerintah No. 2 Tanggal 7 Januari 1946 Tentara
Keamanan Rakyat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian
disusul dengan adanya Dekrit Presiden tanggal 26 Januari 1946, maka nama
Tentara Keselamatan Rakyat disempurnakan dan ditingkatkan statusnya
menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).
Perubahan TRI Menjadi TNI
Sesuai dengan Keputusan Presiden pada tanggal 3 Juni 1947 Tentara
Republik Indonesia (TRI) diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia
(TNI), dimuat dalam Berita Negara Tahun 1947 No. 24.
Sebuah perjalanan panjang kelahiran TNI yang genetiknya murni dari
Ruh rakyat Indonesia yang memiliki nasionalisme kuat. Maka tidakah
mengherankan jika TNI hingga saat ini tidak bisa dipisahkan dan selalu
Manunggal dengan Rakyat.
Kebumen, Sabtu Paing 05 Oktober 2013
Oleh : Ravie Ananda
Oleh : Ravie Ananda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar