Heru Subagyo saat berumur 19 tahun,
di HeihoTechniek Jakarta, foto 16 Meni 1945
keralahir dari Keluarga Pejuang
Pada tahun 1930, R. Sadimin Dwidjosoedarmo membuat pigura dengan hiasan
kepala banteng. Saat itu ia menjabat sebagai “Ndoro Guru” VERVOLGSCHOOL
di Kebumen. Meskipun telah pindah di Kebumen, tokoh asal Yogyakarta ini
tetap aktif berkomunikasi dengan Bung Karno. Di Kebumen ia tinggal di
desa Trukahan (kini jalan Garuda) bersama isteri dan mertuanya yang asli
Kebumen (di daerah ini ia dikenal dengan nama Guru Ndimin).
Dwidjosoedarmo pun kemudian mendirikan PERGOEROAN KEBANGSAAN TAMAN –
SISWA di Kebumen pada tahun tersebut.
Kedatangan Bung Karno dan Isterinya (Inggit) di Kebumen pada tahun
1930 dalam rangka seminar buta huruf (kini lokasi seminarnya menjadi TK
Trisula, sedangkan tempat menginapnya menjadi TK Bustanul Atfal; kisah
lengkapnya di artikel berjudul “Berburu Jejak Soekarno#1”)
juga dimanfaatkan Dwidjosoedarmo untuk berkomunikasi dalam rangka
perjuangan di Kebumen. Kedekatannya dengan Bung Karno pun diketahui oleh
Polisi Belanda. Malang, ia kemudian ditangkap dan dijatuhi vonis
hukuman pembuangan di Boven Digoel (tempat pembuangan pejuang di
Papua/Irian Barat). Nasib baik masih menyertainya. Atas pertolongan
“Ndoro Patih” Kebumen, Dwidjosoedarmo tidak jadi dibuang ke Boven Digoel
dan hanya dipindahkan ke pelosok yakni di desa Banjurpasar. Keadaan
tersebut membuat Dwidjosoedarmo terpaksa membeli kendaraan dokar dan dua
ekor kuda untuk berbagai aktivitasnya termasuk kegiatan mengantar anak –
anaknya sekolah di Kebumen. Ia pun mempekerjakan seorang kusir dan
seorang tukang rumput untuk mengurusnya. Selain itu seorang babu
(istilah jaman Belanda) dipekerjakan untuk membantu memasak, mencuci dan
sebagainya.
Mengenyam Pendidikan Sejak Kecil
Heru Subagyo Tjiptohadikusumo terlahir dari pasangan R. Sadimin
Dwidjosoedarmo dan Soertinah binti Madmoertama. Ia dilahirkan di Kebumen
(Trukahan) pada 16 Oktober 1926. Pada tahun 1941 semasa penjajahan
Belanda masih berkuasa, Heru Subagyo menyelesaikan pendidikan di H.I.S.
(Holland Inlandse School) di Bandung. Pada tahun 1942 Jepang masuk dan
menguasai Indonesia menggantikan pemerintahan Belanda. Pada tahun itu
pula Heru meneruskan sekolahnya di Pendidikan Kogyo Gako di Kebumen.
Pada tahun 1943 ketika diadakan pembukaan Akademi Pendidikan Heiho
Teknik di Jakarta, Heru diterima di akademi tersebut dan menempuhnya
hingga tahun 1945 (sampai dibubarkannya Heiho).
Meskipun kemerdekaan Indonesia telah diproklamirkan pada tanggal 17
Agustus 1945, bangsa Indonesia masih berperang dengan Belanda yang ingin
menjajah kembali. Pada tahun 1946 ketika usianya menginjak 20 tahun,
sebagai pemuda bangsa Heru Subagyo ikut aktif mempertahankan
kemerdekaan. Ia masuk dalam Batalion X di Yogyakarta. Pada tahun 1947
dari Batalion X di Yogyakarta ia ditarik ke Divisi Ronggolawe di Cepu
dengan panglimanya Pangeran Jatikusumo (Jenderal TNI Jatikusumo; makam
Imogiri).
Beberapa Kali Selamat dari Maut
Pada tahun 1948 terjadi pemberontakan PKI Muso di Madiun (Jawa
Timur). Ketika itu Heru yang telah berusia 22 tahun dan rekan – rekan
tentara lainnya dimasukan di Hutan Jati Blora untuk menghadapi Belanda
dan gerombolan PKI Muso. Dikisahkan bahwa pada suatu hari, Heru seorang
berjalan seorang diri tanpa senjata menuju puncak sebuah pegunungan.
Dari arah yang berlawanan ia melihat seorang anggota PKI Muso berseragam
hitam berikat kepala merah bersenjatakan samurai (senjatanya opsir
Jepang). Keyakinan kepada Tuhan yang sangat kuat membuat Heru selamat
saat berpapasan tanpa ada kontak fisik sedikitpun, sementara beberapa
temannya telah terbunuh oleh anggota PKI Muso yang berada di hutan yang
sama. Peristiwa ini besar kemungkinan disebabkan oleh segannya anggota
PKI tersebut kepada Heru yang kebetulan pada waktu itu diangkat anak
oleh kepala perampok yang tinggal berumah tangga di tengah hutan
tersebut.
Pada tahun yang sama ayah Heru Subagyo menjabat sebagai Kepala
Sekolah di Kebumen. Pada saat itu ia bergabung dengan CPM dan diberi
tugas menjadi telik sandi (intel) di daerah pendudukan Belanda di
Cilacap. Beberapa hari tidak ada kabar,adik Heru menanyakannya kepada
CPM. Mendapat jawaban belum adanya kepastian, maka ia pun segera
mengirim surat kepada Heru agar segera pulang ke Kebumen. Setelah berada
di Kebumen, Heru segera menghubungi Komandan CPM dan tetap saja belum
ada kepastian mengenai keadaan ayahnya. Dari CPM Heru hanya diberi beras
dan uang Ori.
Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan Agresi Militer II.
Serangan militer menggunakan konvoi kendaraan tempur, truk dan kereta
api tersebut dari arah barat dimulai dengan melanggar garis status quo/demarkasi Kemit menuju ke Yogyakarta melalui jembatan Kereta Api Panjer (Jembatan Renville).
Semua warga Kebumen oleh Kapten Gunung diinstruksikan untuk mengungsi
menyelamatkan diri. Termasuk R.Siswodihardjo, seorang pengajar (calon
mertua dari Heru Subagyo) dan keluarga yang tinggal di Panjer sejak
tahun 1941 membeli rumah milik tentara Belanda pun mengungsi ke selatan.
Ketika itu calon isteri Heru (Enny Siswati) masih duduk di bangku SLTP.
Pabrik Minyak Kelapa Mexolie (pada
awal didirikan tahun 1850 an dengan nama “NV. Oliefabrieken Insulinde”
kemudian diswastakan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1915 dengan nama
“Mexolie”; pada tahun 1942 diambil alih oleh pemerintah Jepang)
yang sejak proklamasi 17 Agustus 1945 diambil alih oleh Tentara
Indonesia dan dijadikan markas pertahanan dari Batalyon III/64 Kedu
Selatan kembali diduduki pasukan Belanda dan kemudian dijadikan sebagai
markas KL (Koninklijk Leger/Tentara Kerajaan Belanda). Empat pejuang
(dua orang TNI dan dua orang barisan Pemuda Minyak) yang tengah
melaksanakan bumi hangus Mexolie tertangkap dan dieksekusi di lapangan
tenis (baca artikel “Lapangan Tenis Mexolie Panjer” dan “Jembatan Renville Panjer”).
Sementara itu penduduk Kebumen yang berada di sekitar Trukahan
mengungsi ke utara. Mengingat ayahnya tidak diketahui keberadaannya
sedangkan ia hanya bersama ibu dan adik – adiknya yang masih kecil, Heru
yang baru pulang dari Blora memutuskan untuk tidak mengungsi. Ia benar –
benar pasrah akan hidup dan matinya kepada Allah Swt. Keyakinan
Ketuhanan yang kuat inilah yang kembali menyelamatkan Heru dari maut
untuk kedua kalinya. pada suatu malam terdengar suara tembakan pejuang
RI dari balai desa Kebumen yang berada di sebelah utara rumah Heru ke
markas KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) yang berada di Gedung
Bunder (depan Hotel Putra). Keesokan harinya tentara KNIL bersenjatakan
laras panjang lengkap dengan bayonetnya masuk ke dalam rumah – rumah
warga Trukahan yang telah ditinggal mengungsi untuk mencari para pejuang
yang mungkin bersembunyi. Tidak luput pula rumah Heru Subagyo yang
selalu tertutup rapat digeledah. Akhirnya diketahuilah bahwa rumah
tersebut berpenghuni.
Heru pun digelandang oleh Kopral KNIL untuk dibawa ke komandan I.D
(Inlichting Dienst) di markas I.D yang berada di gedung yang kini
menjadi Losmen Pusaka Panjer (dahulu bernama gedung Theresia). Saat
digelandang, komandan KNIL yang kebetulan melihatnya segera
menginstruksikan kepada kopral untuk tidak membawa Heru ke markas I.D
melainkan ke markas KNIL. Dengan bahasa Belanda Komandan KNIL menanyakan
tentang keluarga Heru. Setelah mengatahui bahwa ia hanya bersama ibu
dan adik – adik perempuan yang masih kecil, Heru pun dianggap sebagai
anak dari Komandan KNIL tersebut. Ini berarti untuk kedua kalinya Heru
selamat dari maut, sebab semua pemuda yang tertangkap dan di bawa ke
kantor I.D di Panjer pasti segera dieksekusi di jembatan Kereta Api
Panjer (Renville) atau di jembatan Tembana dengan terlebih dahulu
disuruh berlari menuju lokasi diikuti algojo KNIL asal Ambon yang sangat
terkenal kejam di kota Kebumen bernama Mahani yang bersepeda dan
membawa senjata. Hal ini dialami pula oleh dua orang pemuda yang
tertangkap bersamaan dengan Heru. Kedua orang tersebut dibiarkan
komandan KNIL untuk dibawa ke markas I.D dan selanjutnya disuruh berlari
ke utara menuju jembatan Tembana, sementara Heru bernasib baik karena
dibawa ke markas KNIL.
Komandan KNIL membuktikan kejujuran cerita Heru dengan menyuruh
Kopral membawa adik – adiknya yang di rumah ke kantor KNIL. Setelah
melihat adik – adiknya yang masih kecil, Komandan tersebut makin terharu
karena di kota Kebumen tidak ada yang berjualan sementara itu Heru dan
keluarga hanya bertahan dengan hasil bumi seadanya yang mereka punya di
rumah dan pekarangannya. Komandan itu pun kemudian meminta adiknya untuk
mengambil roti tiap hari ke markas KNIL. Pernah pada suatu hari karena
hujan, adik Heru tidak mengambil roti hingga petang. Tak disangka
Komandan KNIL datang membawa roti ke rumah Heru. Meski telah mengetuk
pintu beberapa kali akan tetapi belum dibukakan pintunya, Komandan tidak
mau masuk rumah. Heru pun heran dengan sikap Komandan tersebut karena
ia telah diaku anak dan keperluannya adalah mengantarkan roti, mengapa
tidak masuk saja. Ternyata itu adalah sikap menghormati yang juga lazim
di Belanda.
Kembalinya MEXOLIE Kebumen
Setelah diadakannya perundingan KMB (Konfrensi Meja Bundar) antara
Pemerintah Indonesia dan Belanda maka pada bulan Desember 1949 tidak ada
lagi peperangan. Salah satu hasil dari kesepakatan damai adalah semua
perusahaan Belanda yang dikuasai oleh Pemerintah Indonesia pada awal
kemerdekaan harus dikembalikan lagi kepada Belanda. Pada bulan Desember
1949 saat militer Belanda akan meninggalkan Indonesia, Heru dipanggil
oleh Komandan KNIL dan ditanya apakah ia akan meneruskan karirnya di
tentara ataukah akan mencari pekerjaan lain. Sebelum pulang ke Kebumen
pada tahun 1948 Heru sendiri akan dijadikan Komandan PDM (kini Kodim) di
Blora, sedangkan temannya kemudian menjadi komandan PDM di Bondowoso.
Heru pun memilih mencari pekerjaan lain. Komandan KNIL kemudian membuat
surat pengantar untuk Heru dan menyuruhnya agar melamar di Perusahaan
Mexolie yang kebetulan pada saat itu akan ada kunjungan dari direksi
Mexolie Belanda ke Kebumen dalam rangka persiapan beroperasinya kembali
Mexolie.
Mulai 1 Januari 1950 Perusahaan Mexolie resmi dikembalikan lagi kepada Pemerintah Belanda (Pada tahun itu pula setelah militer Belanda kembali ke negerinya, semua tawanan Belanda dibebaskan termasuk ayah Heru Subagyo).
Pejabat Belanda dari Jakarta datang ke Kebumen meninjau Mexolie yang
masih terbengkalai dan kosong begitu juga wilayah di sekitarnya karena
warga Panjer belum kembali dari pengungsian. Heru yang mengetahui adanya
Pejabat Belanda yang datang di Panjer segera membawa lamaran dengan
surat pengantar dari Komandan KNIL. Perusahaan yang sedang membutuhkan
tenaga kerja untuk beroperasinya kembali pabrik segera menerima Heru
apalagi melihat surat pengantar yang dibuat oleh Komandan KNIL (orang
Belanda asli). Heru pun menjadi satu – satunya tenaga inti Indonesia
yang diterima di Perusahaan Mexolie (tenaga lain dengan buruh atau
kuli). Penguasa (Administratur) perusahaan mempercayakan penuh kepadanya
untuk merekrut pekerja. Mantan pekerja (kuli, tukang dan mandor)
Mexolie ia utamakan. Setelah jumlah pekerja memenuhi syarat maka pada
tanggal 3 Juni 1951 Heru pun memimpin upacara pembukaan kembali
Perusahaan Mexolie disaksikan pejabat Belanda dari Jakarta. Pada waktu
itu ia berusia 24 tahun. Tradisi menanam kepala Kerbau dan mengarak
sesaji di dalam pabrik pun tidak ia lupakan. Pertunjukan wayang kulit
yang berfungsi sebagai ruwatan digelar di garasi Truk Mexolie. Beberapa
bulan setelah pembukaan, pabrik mulai beroperasi (“giling”) dan lancar.
Heru menjabat sebagai Kepala Bagian Produksi Mexolie. Sementara semua
posisi lainnya dijabat oleh orang Belanda. Dari para Belanda itulah ia
diajari bagaimana cara menghitung “Rendemen” minyak. Kemampuannya itu
membuatnya akan dipindahkan ke Mexolie Banyuwangi sebagai tenaga handal
perusahaan akan tetapi ia menolak dan lebih memilih di Kebumen.
Jagoan Tenis Mexolie
Untuk mengisi hiburan, para pejabat Belanda di
Mexolie mengadakan olah raga Tenis. Saat itu belum ada orang Indonesia
di Kebumen yang bermain tenis. Heru adalah satu – satunya pejabat
pribumi yang ikut bermain tenis. Tenaga pengambil bola (istilah waktu
itu “Kacung”) adalah saudara Heru sendiri yang bernama Alireja. Meski
menjadi kacung, Alireja rajin meminta dilatih tenis oleh Heru
menggunakan raket buatan dari papan. Ia pun menjadi saksi bagaimana Heru
menjadi jagoan tenis yang mengalahkan semua Belanda dan seorang Menado.
Selain jago tenis, Heru yang terbukti memiliki kwalitas kepemimpinan di
pabrik dimintai bantuannya oleh lurah Panjer yang dijabat oleh Pak Bono
(lurah saat itu sudah menjadi sebutan lazim bukan kepala desa) untuk
memimpin Bamudes (Badan Musyawarah Desa).
Pernikahan Keluarga Pendidik
Pada tanggal 7 April 1956, Heru Subagyo dengan Rr. Enny Siswati,
putri dari R. Siswodihardjo Kepala Sekolah SD Kebumen (dahulu Kebumen
baru berdiri satu SD). Ayah Heru sendiri ketika itu menjabat sebagai
Kepala Sekolah di Jatisari. Saat menikah, Isteri Heru pun telah menjadi
seorang guru di Sumberadi.
Kondisi Transportasi di Kebumen
Hari Minggu Legi, tanggal 21 April 1957 bertepatan
dengan peringatan hari Kartini, Heru Subagyo dianugerahi putra
pertamanya. Pada saat itu di Kebumen belum ada kendaraan roda empat
maupun roda dua untuk umum maupun pejabat pemerintah. Seorang Asisten
Wedana (sekarang Camat) masih menggunakan sepeda. Untuk menjemput isteri
dan bayinya dari rumah sakit, Heru diberi pinjaman mobil dari
Administrateur Mexolie.
Isteri Heru telah dipindah tugas di SD Panjer. Di Kebumen belum ada
kendaraan roda empat maupun Bus untuk disewa. Untuk keperluan
darmawisata anak – anak SD Panjer ke Borobudur dan sekitarnya digunakan
Truk pinjaman dari Mexolie yang sehari – hari digunakan untuk mengangkut
drum berisi minyak kelapa, bungkil, maupun kopra.
Nasionalisasi Mexolie
Pada tahun 1958 semua perusahaan yang pada tahun
1950 diserahkan ke Pemerintah Belanda dinasionalisasi. Termasuk Pabrik
Mexolie Kebumen yang langsung dikelola oleh pusat di bawah Badan
Penguasaan Industri dan Tambang disingkat BAPIT (dalam perkembangannya
menjadi BUMN). Mexolie pun berubah nama menjadi “Nabati Yasa”. Seperti
halnya proses nasionalisasi perusahaan Belanda lainnya, pengambilalihan
Mexolie Kebumen dari Pemerintah Belanda ke Pemerintah Indonesia
dilakukan oleh Penguasa Militer sebagai pemerintahan tertinggi pada
bulan Januari 1958 dipimpin oleh Mayoor Soedjono. Nabati Yasa yang pada
masa kemerdekaan telah diduduki Militer Indonesia dan dijadikan Markas
Batalyon 64 hingga terjadinya Agresi Militer Belanda II kembali
dijadikan markas PDM (dalam perkembangannya berubah nama menjadi Kodim).
Direktur pertama Nabati Yasa dijabat oleh Mayoor R. Soedjono sedangkan
Heru tetap menjabat sebagai Kepala Produksi. Pada masa ini Heru berhasil
membongkar sindikat penggelapan minyak di Nabati Yasa. Setiap akhir
bulan, tugasnya adalah menghitung Rendemen minyak. Jika Rendemen turun,
maka ia bertanggung jawab atas larinya minyak tersebut. Pernah terjadi
dalam satu bulan diketahui bahwa Rendemen minyak turun. Heru membawa
beberapa kuli (pekerja) pada malam hari untuk masuk ke gudang tempat
penyimpanan minyak yang telah dikemas dalam drum. Ia pun menyuruh mereka
menimbang satu persatu drum berisi minyak tersebut. Diketahuilah bahwa
semua drum melebihi ketentuan isi minyak, tidak sesuai dengan aturan
dalam daftar pengiriman. Paginya Heru melaporkan peristiwa tersebut
kepada administratur yakni Mayoor Soedjono. G. Loth seorang mandor asal
luar Jawa yang melakukan penyelewengan segera dipanggil dan diberi surat
pemecatan.
Sahabat Karib Sarbini
Pasca Nasionalisasi, buruh (istilah sekarang karyawan) Nabati Yasa
mulai mengenal olah raga Tenis. Dari semua yang ada, Heru belum bisa
terkalahkan dalam permainan ini. Termasuk sahabat karibnya yakni Sarbini
(terakhir Jenderal TNI) yang pada waktu itu masih menjabat sebagai
Panglima Divisi Diponegoro dengan pangkat Perwira Menengah (Letnan
Kolonel). Sarbini selalu mengajak “Dek Heru” (panggilan akrab Sarbini
kepada Heru Subagyo) untuk bermain tenis di lapangan Nabati Yasa setiap
ia pulang cuti di desa Endrosari tanah kelahirannya. Kebetulan saat itu
Heru Subagyo dan keluarga menempati rumah Mess pabrik di sebelah utara
lapangan tenis (kini rumah dinas Dandim 0709 Kebumen).
Meski semakin jarang bertemu, persahabatan Heru dan Sarbini tetap
baik. Ketika Sarbini akan mengikuti pendidikan SESKOAD di Bandung dan
harus naik kereta api di Kroya (karena tidak berhenti di Kebumen), Heru
menjemput Sarbini di rumahnya di Endrosari dan mengantarnya hingga ke
Kroya menggunakan kendaraan Nabati Yasa.
Masa Keemasan Nabati Yasa
Pergantian Pimpinan Nabati Yasa dari Mayoor
Soedjono kepada Kapten Soenandar (Direktur kedua pasca Nasionalisasi
Mexolie) terjadi pada tahun 1961. Masa ini dapat dikatakan sebagai masa
keemasan Nabati Yasa. Ibu Soenandar adalah mantan pendidik sehingga di
Nabati Yasa ia mendirikan TK dan SD menggunakan gedung yang dahulu
digunakan untuk anak – anak Belanda di Mexolie (kini TK PMK Sari Nabati
yang telah dihancurkan). Berhubung isteri Heru juga seorang guru, maka
kelancaran jalannya TK dan SD diserahkan kepadanya. Pendidikan TK dan SD
pada awalnya menggunakan satu gedung, tetapi dalam perkembangannya
dikarenakan semakin banyaknya murid SD maka kegiatan belajar SD dipindah
di sebelah timur pabrik (kini menjadi SD Panjer Negeri 5; inilah embrio
berdirinya SD Negeri Panjer 5).
Selain kegiatan pendidikan Nabati Yasa, Kapten Soenandar selaku
Penguasa Pabrik juga membentuk HANSIP. Heru pun dikirimnya ke Yogyakarta
untuk mengikuti kuliah latihan Supervisor dari Departemen
Perindustrian. Ia lulus dengan baik setelah berhasil menyelesaikan ujian
praktek dari dosennya yang langsung ke Kebumen disaksikan oleh Kapten
Soenandar. Melihat kemampuan Heru, Kapten Soenandar kemudian menunjuknya
sebagai pelatih buruh (kuli dan tukang) menjadi “Barisan HANSIP Nabati
Yasa”. Keseriusannya dalam melatih berhasil baik bahkan kemudian Barisan
HANSIP Nabati Yasa dikenal seperti Barisan Hitler (Jerman). Selain
buruh pabrik, Heru pun ditarik oleh Kecamatan untuk melatih pegawai
Pemerintah Daerah (Pemda) dimana anggotanya tidak hanya laki – laki saja
tetapi juga pegawai perempuan termasuk isterinya sendiri.
Sekali lagi, bahwa di masa kepemimpinan Kapten Soenandar, Nabati Yasa
mengalami kemajuan pesat. Diadakan program pemberantasan Buta Huruf di
lingkungan pabrik. Peserta laki – laki langsung dalam bimbingan Heru
sebagai pengajar, sementara peserta perempuan dalam bimbingan isterinya.
Heru dan isteri sibuk terlibat kegiatan perusahaan dan desa serta
undangan dari DPRD, Instansi Pemerintah dan SATTUNGGAL (Bupati,
Pengadilan, Kejaksaan,Kepolisian).
Ujian Berat Sebuah Kejujuran
Pada tahun 1964 terjadi pergantian Direktur Nabati
Yasa. Pada suatu hari Heru dipanggil Direktur diruang kerjanya yang
letaknya terpisah dengan ruangan pegawai kantor. Tak disangka ia
mendapat perintah untuk menyisihkan minyak di belakang koma dari
Rendemen. Misal Rendemen ada 16,7% maka yang 0,7% diperintahkan untuk
disisihkan dan tidak dimasukkan ke dalam pembukuan. Perintah ini tidak
hitam di atas putih (Zwart Op Wit). Sebagai Penanggung jawab Produksi
Heru pun menolaknya dengan tegas. Kejujuran dan keyakinannya kepada
Tuhan ia pegang teguh dan diyakini sebagai suatu hal yang selama ini
telah menyelamatkan hidupnya.
Sebagai orang pertama pasca kembalinya Mexolie, tugas Heru memang
tidak ringan. Selain bertanggung jawab atas produksi dan keamanan
minyak, ia juga harus menjaga keamanan situasi kerja di pabrik. Tidak
jarang terjadi perselisihan antarkuli, tukang dan mandor. Pernah terjadi
perselisihan karena salah paham antara mandor dan pekerja baru pindahan
dari Makasar bernama Azis mangawing. Di tempat asalnya ia telah banyak
membunuh orang sehingga kemudian dipindah ke Nabati Yasa Kebumen. Pada
saat itu Azis membawa belati. Heru segera di hubungi via telepon oleh
Direktur agar segera mengatasi perselisihan tersebut. Dengan
pengalamannya yang telah beberapa kali selamat dari maut, ia pun segera
bertindak. Azis dibawanya ke sebuah gudang kosong dan diberi nasehat
dengan penuh kesabaran. Heru pun berjanji bahwa Azis tidak akan dipecat.
Akhirnya pekerja baru itu tersentuh hatinya. Mereka berdua kemudian
menghadap kepada Direktur dan permasalahan dapat diselesaikan dengan
baik. Semenjak saat itu Heru dianggap saudara oleh Azis Mangawing.
Persaudaraan mereka sangat erat. Bahkan pada saat ayah dari Azis
meninggal dunia di Kebumen, Herulah yang mengurus segala sesuatunya
hingga pemakaman.
Waktu terus berlalu, Direktur baru masih tetap menginginkan agar Heru
menyisihkan angka di belakang koma Rendemen minyak. Berbagai upaya
dilakukan Direktur agar Heru bersedia melakukan itu. Pada suatu hari
Heru dipanggil ke rumah Direktur secara kekeluargaan dengan jamuan
hidangan bermacam – macam. Pada awalnya pembicaraan berlangsung santai
akan tetapi pada akhirnya kembali Direktur menekankan agar Heru bersedia
menyisihkan minyak. Dengan tegas ia menolak perintah tersebut.
Pembicaraan menemui titik buntu. Beberapa kali menolak perintah,
Direktur pun mencari alasan kesalahan untuk memecat Heru. Ia sadar bahwa
setiap manusia mempunyai kesalahan, akan tetapi Heru pun yakin bahwa
kesalahan yang dituduhkan Direktur belum tentu bisa dijadikan alasan
untuk memecatnya.
Pada akhirnya keluarlah surat Pemecatan dari Direktur Nabati Yasa
untuk Heru Subagyo. Sesampainya di rumah, Heru memberitahukan perihal
tersebut kepada isterinya. Hari itu juga Heru pergi ke Semarang guna
melaporkan perihal yang telah terjadi kepada Direktur Utama Mayoor
Soenandar. Setelah Direktur Utama mengetahui laporan tersebut, untuk
sementara Heru ditugaskan bekerja di pabrik Semarang. Ia difasilitasi
tinggal di hotel serta kendaraan antar – jemput kerja. Beberapa hari
kemudian Mayoor Soenandar datang ke Nabati Yasa Kebumen untuk melakukan
pemeriksaan berdasarkan laporan dari Heru. Karena semua yang dilaporkan
Heru terbukti benar, maka ia pun diangkat kembali dengan kedudukan yang
sama di Nabati Yasa Kebumen. Untuk memastikan keamanan Heru, Mayoor
Soenandar juga mengirimkan seorang CPM (Nyoto) dari Jawa Timur di Pabrik
Kebumen.
Pada tahun 1965, di Kebumen diadakan pendaftaran mahasiswa Perguruan
Tinggi UNTAG bagi lulusan SMA dan Pegawai. Meskipun Heru telah
berkeluarga dan dianugerahi enam orang anak, semangatnya untuk terus
menambah ilmu pengetahuan tidaklah berhenti. Ia pun ikut mendaftarkan
diri. Semua syarat termasuk perploncoan dan lain – lain dijalankan.
Ketua panitia pendaftaran pada saat itu adalah Kepala Pengadilan
Kebumen, Setyo Harsoyo, SH. Pada suatu hari ketika perkuliahan tengah
berlangsung, datang seorang dosen dan membacakan hasil karangan dari
mahasiswa terpilih yang mana itu merupakan karangan dari Heru Subagyo.
Setelah perploncoan selesai maka Panitia Penerimaan Mahasiswa memutuskan
bahwa dari ratusan peserta yang ada, Heru Subagyo terpilih sebagai
“KING”, sedangkan putri dari Kepala Kejaksaan Kebumen, Suwito, SH
sebagai “QUIN”. Pelantikan Mahasiswa baru dilakukan di Gedung Bioskop
Widodo (Star Bodol; kini Bank Danamon) oleh Bupati Kolopaking.
Kepasrahan Menghadapi Ujian Fitnah
Pada tanggal 30 September 1965 terjadi peritiwa
pemberontakan oleh PKI yang kemudian dikenal dengan G.30.S.PKI. Adanya
peristiwa ini dimanfaatkan oleh Direktur Nabati Yasa yang pada saat itu
tidak berhasil memecat Heru untuk memfitnahnya. Heru yang pernah ikut
menumpas pemberontakan PKI Muso di Madiun tahun 1948 ketika ia masih
dalam kemiliteran kini dituduh sebagai aktivis PKI hanya karena menjadi
membawahi semua buruh pabrik di Nabati Yasa. Di sisi lain, Direktur
melindungi salah seorang karyawan yang merupakan aktivis PKI sejak tahun
1948 karena ia mau diajak kerjasama dalam memanipulasi laporan produksi
minyak perusahaan. Heru pun dikirim ke kantor polisi. Di sana ia
menceritakan kronologi yang menyebabkan ia difitnah oleh Direktur.
Kapolres Comisaris Daim (orang Medan) yang mengetahui keadaan tersebut
pun menolong Heru agar tidak dikeluarkan dari Nabati Yasa. Karena
khawatir Direktur mengancam jiwa Heru dengan kekuasaan R.P.K.A.D yang
sedang ganas – ganasnya, maka Kapolres memerintahkan kepada Inspektur
Muhadi agar sementara Heru dititipkan ke Ajun Inspektur di asrama
Kepolisian. Heru dianggap anak oleh keluarga Ajun Inspektur. Begitu pula
jika isteri dan enam anaknya menjenguk, diterima dengan baik sebagai
keluarga. Heru diperlakukan sangat baik di asrama Kepolisian termasuk
oleh anggota lain diantaranya agen polisi Sumantri.
Setelah beberapa waktu dititipkan di asrama Kepolisian, Heru pun
dijatuhi vonis hukuman dibuang di Boven Digoel (Papua). Kapten Masduki
(Panjer) yang bertugas menangani masalah tahanan PKI sangat tahu betul
keadaan yang menimpa Heru Subagyo. Ia kemudian menolong Heru dengan
merobek surat vonis pembuangannya ke Boven Digoel dan meyakinkan bahwa
ia akan tetap di Kebumen.
Akhirnya Heru Subagyo dikirim ke Lembaga Pemasyarakatan Kebumen.
Semua pakaian diperiksa. Sebagian yang terlarang seperti ikat pinggang,
jam tangan dan cincin disimpan di Kantor LP. Namun Heru tetap
diperbolehkan memakai cincin. Ia diperlakukan istimewa baik oleh penjaga
maupun oleh napi (tahanan) dan tawanan. Perbedaan napi dan tawanan pada
saat itu adalah pada hal makanan. Jika napi mendapat makanan dari LP,
untuk tawanan dirangsum dari keluarga dengan terlebih dahulu digeledah
di penjagaan untuk menghindari adanya surat maupun tulisan rahasia yang
sengaja diselipkan dalam rangsum tersebut. Hari – hari penuh kepasrahan
dilalui Heru di dalam LP selama kurang lebih tiga tahun hingga akhirnya
ia dibebaskan pada tahun 1968.
Pageblug di Panjer
Pada tahun 1967 desa Panjer mengalami pageblug berupa wabah penyakit
yang menyerang anak – anak. Banyak anak yang meninggal dunia teserang
penyakit. Ada pula kakak beradik yang meninggal dunia. Termasuk pula
anak ke enam Heru (putri) yang masih berusia 4 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar