Minggu, 20 Oktober 2013

Kompi Arimbi Kalipuru Kebumen, Embrio Persit (Persatuan Isteri Prajurit)


Pada masa Agresi Militer Belanda II, dalam kurun waktu Desember 1948 sampai Desember 1949 di dataran tinggi Kebumen bagian utara di desa Kalipuru, ada satu kompi kaum ibu yang diberi nama Kompi Arimbi. Mereka adalah para isteri perwira dan prajurit dari Batalyon Pendawa yang dipimpin oleh Ibu Soedarmo Djayadiwangsa.
Tugas kompi ini antara lain memberi saran atau masukan kepada Batalyon Pendawa terutama bantuan mental dan moril bagi prajurit. Selain itu Kompi Arimbi juga mendidik anak-anaknya yang 



Suasana berkabut di dataran tinggi 
Kalipuru, Karangsambung – Kebumen 

sering ditinggal tugas oleh bapaknya. Mereka juga menyiapkan dapur umum atau bekal makanan yang berhari-hari masih bisa dimakan serta menyelenggarakan pembinaan mental dan fisik isteri tentara yang ada di Kalipuru.
Kompi juga memberikan kursus pengetahuan tentang kewanitaan sepeti kursus masak dengan bahan sesuai keadaan dan kursus menjahit pakaian dengan tangan serta membuat pola baju anak dan wanita, serta mengadakan pengajian. Kompi Arimbi inilah embrio dari Persit (Persatuan Isteri Prajurit).
Tugas Kompi Arimbi ternyata berkembang dan berkelanjutan untuk mendukung tugas suami, berkaitan dengan tugas bangsa dan negara yaitu dalam Dharma Wanita, Dharma Pertiwi, Persit, Aditya Garini, Jalesyanastri dan Bhayangkari.
Kalipuru pada masa itu adalah desa di wilayah Kecamatan Krakal Kebumen yang belum bisa dijamah oleh Belanda selama Perang Kemerdekaan 1948 – 1949.








Mayor Soedarmo Djayadiwangsa terakhir berpangkat Mayjen TNI (Purn.) dan mantan Inspektur Jenderal Departemen Dalam Negeri serta mantan Duta Besar RI di Sri Langka.

Kebumen, Jumat Kliwon 13 September 2013





Tradisi Suran Kirab Budaya Ruwat Bumi Panjer Sebagai Simbol Kejayaan




Pagelaran wayang kulit di pabrik Mexolie Panjer tahun 1951  

Tradisi Kirab Budaya Ruwat Bumi Panjer setiap bulan Sura/Muharram yang kembali dihidupkan sejak tahun 2010 lalu ternyata sangat disakralkan dan dijadikan simbol kesuksesan oleh NV. Oliefabrieken Insulinde/Mexolie Kebumen yang ketika itu masih dalam kekuasaan Belanda. Bahkan setelah perundingan Konfrensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949 dimana sebagai konsekwensinya Mexolie kembali dikelola oleh Belanda hingga tahun 1958 tradisi suran Kirab Budaya Ruwat Bumi Panjer menjadi keharusan. Tradisi ini terus berlangsung hingga tahun 1980. Setelah Penyerahan pengelolaan Mexolie dari pemerintah Belanda kepada Indonesia pada 1958, Mexolie diubah namanya menjadi Sarinabati.

Tradisi Kirab Panjer pada masa lalu sangat sakral dan meriah. Diawali dengan penyembelihan “kerbau bule” yang kemudian kepalanya dikirab mengelilingi pabrik Mexolie diiringi alunan musik gamelan diteruskan dengan penguburan kepala kerbau di salah satu lokasi sakral di dalam pabrik. Setelah prosesi tersebut, agenda selanjutnya adalah pagelaran wayang kulit di halaman pabrik Mexolie. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh keluarga besar Mexolie dan warga masyarakat dengan sangat antusias dan khidmat.
Seiring berjalannya waktu, kirab ini dihentikan tanpa sebab yang jelas (sejak pergantian direksi pada tahun 1980). Mulai saat itu pula, Sarinabati yang dahulu merupakan pabrik minyak pertama dan terbesar di Indonesia (bahkan satu – satunya yang masih ada hingga kini) mengalami kemunduran hingga akhirnya bangkrut dan ditutup pada tahun 1986.






Dengan dihidupkannya kembali Tradisi Kirab Budaya Ruwat Bumi Panjer setiap bulan Sura/Muharram, diharapkan ada feedback positif baik di bidang budaya lokal maupun kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat dan tentunya semakin membangkitkan kembali kesadaran dan semangat kecintaan terhadap NKRI yang selama ini terninabobokan. Salam Pancasila!

Oleh: Ravie Ananda
Kebumen, Senin Kliwon 9 Juni 201

Martasentana Pahlawan Kemerdekaan dari Desa Sugihwaras, Adimulyo – Kebumen

esa Sugihwaras termasuk dalam wilayah kecamatan Adimulyo. Pada masa perang kemerdekaan desa ini menjadi salah satu bagian pertahanan tentara RI. Untuk menghindari banyaknya korban penyerangan Belanda terhadap pos pertahanan TNI di Sidobunder pada Selasa akhir Agustus 1947, tentara RI mundur ke desa Sugihwaras (sebagai batas pertahanan terluar) hingga ke Podohurip (markasnya kini menjadi SDN Podohurip). Salah satu pejuang yang bermarkas di Sugihwaras adalah Supardjo Rustam (mantan Gubernur Jawa Tengah). Selanjutnya pada peristiwa Canonade Candi 19 Oktober 1947 Belanda juga mengawali serangan pendahuluannya ke desa ini.

 
Beberapa hari setelah peristiwa Canonade Candi dan Sugihwaras, tepatnya pada tanggal 23 Oktober 1947 Belanda berhasil mendapat informasi mengenai banyaknya markas tentara RI serta catatan struktur penggerak perjuangan masyarakat dari Podohurip hingga ke Sugihwaras yang ternyata didominasi oleh para pemuda desa Sugihwaras. Beberapa penggerak perjuangan masyarakat tersebut antara lain : Martasentana, Wiryosukarto, Diyun (Hadiwisastro), Suro, dan Atmosukarto. Pada hari itu juga datang informan dari pihak RI ke Sugihwaras memberitahukan bahwa Belanda akan melakukan penyerangan ke daerah tersebut. Seluruh Tentara dan masyarakat pejuang yang berada di Sugihwaras pun segera bergeser ke timur, di Podohurip dan sekitarnya yang pada saat itu sedang banjir. Dua tokoh pengerak masyarakat yang pada saat itu masih berada di Sugihwaras adalah Diyun (Hadiwisastro) dan Martasentana.
Setelah melihat Belanda datang, Diyun segera bersembunyi dengan berendam di dalam empang belakang rumahnya. Hanya sedikit wajahnya yang ia munculkan untuk bernafas. Itupun ia tutupi dengan daun talas (Lumbu). Diyun berada di dalam empang beberapa hari hingga kondisi benar – benar telah aman.
Martasentana yang pada saat itu akan bergeser di Podohurip masih menyempatkan diri membawa kayu dengan berenang (memanfaatkan banjir) untuk menghambat jalan pasukan Belanda. Tidak disangka, ada seorang warga yang kemungkinan merupakan mata – mata musuh melihat aksi Martasentana tersebut dan segera melaporkan kepada Belanda. Pasukan Anjing Nica segera mendekati Martasentana yang tengah menjalankan aksi penghambatan tersebut. Martasentana yang tengah berada dalam genangan air kemudian dipanggil Belanda. Dengan gagahnya ia mendekat. Belanda yang sebelumnya telah mengantongi daftar nama penggerak perjuangan segera mengikat Martasentana.

Penyiksaan Sadis Terhadap Martasentana
Jawaban – jawaban tegas Martasentana ketika diinterogasi membuat ia disiksa dengan sadis. Dengan tangan terikat, mulutnya diberi rokok yang telah dibubuhi bubuk mesiu sehingga mulutnya pun rusak terbakar. Begitu juga kumis lebatnya hangus dibakar. Penyiksaan selanjutnya lebih kejam lagi, matanya dicongkel dengan bayonet sedangkan tubuhnya disayat – sayat. Belum puas dengan itu, Anjing Nica yang terkenal sadis itu (konon dipimpin oleh Kartalegawa) mengikat Martasentana dengan seutas tambang dan menyeretnya dengan menggunakan Jeep mirip penyiksaan yang dialami oleh Asral (pemuda asal Grenggeng). Setelah Jeep berhenti, mulut Martasentana yang telah hancur dimasuki pistol dan kemudian ditembakkan sehingga peluru pun menembus belakang leher mengakhiri hidupnya.
Beberapa warga, perempuan dan anak – anak yang melihat kejadian tersebut tidak berani mendekat. Baru setelah Belanda meninggalkan desa Sugihwaras jenazah Martasentana diambil oleh warga dan keluarganya untuk kemudian dimakamkan. Martasentana pada saat itu telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak laki – laki. Isteri dan seorang anaknya telah meninggal dunia sedangkan anaknya yang lain hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
Setelah berakhirnya masa Agresi Militer belanda II dan keadaan telah aman, warga desa Sugihwaras membangun tugu peringatan untuk menghormati jasa perjuangan dan keberanian Martasentana dalam melawan Belanda dan diberi nama Tugu Martasentana. Tugu tersebut dibangun tepat di tempat Martasentana meregang nyawa.
Hingga kini, setiap malam 17 Agustus, warga desa dipimpin oleh Kepala Desa Sugihwaras melaksanakan kegiatan rutin berupa talhil di makam Martasentana diteruskan menabur bunga di makam Tugu Martasentana. Meski nasib Martasentana tidak sebaik Asral yang makamnya dipindahkan di makam Pahlawan Kebumen, Pejuang kebanggaan desa Sugihwaras ini tetap melekat dihati warga.
Sebelum peristiwa tersebut, Martasentana dan pemuda desa Sugihwaras aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pada peristiwa perang Ambarawa di awal kemerdekaan, sekelompok pemuda Sugihwaras ini berangkat ke Ambarawa. Hanya berbekal semangat, tekad dan keyakinan untuk ikut berjuang melawan musuh serta bersenjatakan seadanya mereka berjalan kaki sampai di Ambarawa. Dikisahkan bahwa perjalanan mereka dari Kebumen ketika itu sampai pada sebuah lereng perbukitan. Terlihat di atas bukit tersebut telah menunggu sejumlah pasukan yang telah siap dalam posisi Stelling. Awalnya Martasentana dan kawan – kawan menyangka itu adalah tentara RI sehingga mereka makin semangat naik untuk bergabung dengan pasukan tersebut. Ternyata dugaan mereka salah, sekelompok pasukan tersebuk kemudian memberi aba – aba menembak. Martasentana dan kawan – kawan jadi tahu bahwa pasukan yang di atas tersebut adalah pasukan Belanda. Segera mereka menuruni bukit dengan menggelindingkan diri hingga kulit kaki dan tangan hampir terkelupas semua karena benturan medan perbukitan tersebut.








Semangat juang Martasentana yang tanpa pamrih dan kecintaannya terhadap Republik Indonesia sangat patut dibanggakan serta dijadikan teladan bagi generasi penerus bangsa dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan NKRI.
Salam Pancasila!


Oleh : Ravie Ananda
Kebumen, Selasa Paing 27 Mei 2013

Sumber:
- Gelegar di Bagelen
– Wawancara dengan Sikun Madmiharjo (mantan pemuda pejuang Sugihwaras), Bambang bin Wiryosukarto (mantan kepala desa Sugihwaras), Susmiyati binti Atmosukarto

Sabtu, 19 Oktober 2013

Heru Subagyo dan Mexolie


Heru Subagyo saat berumur 19 tahun,
di HeihoTechniek Jakarta, foto 16 Meni 1945

 keralahir dari Keluarga Pejuang
Pada tahun 1930, R. Sadimin Dwidjosoedarmo membuat pigura dengan hiasan kepala banteng. Saat itu ia menjabat sebagai “Ndoro Guru” VERVOLGSCHOOL di Kebumen. Meskipun telah pindah di Kebumen, tokoh asal Yogyakarta ini tetap aktif berkomunikasi dengan Bung Karno. Di Kebumen ia tinggal di desa Trukahan (kini jalan Garuda) bersama isteri dan mertuanya yang asli Kebumen (di daerah ini ia dikenal dengan nama Guru Ndimin). Dwidjosoedarmo pun kemudian mendirikan PERGOEROAN KEBANGSAAN  TAMAN – SISWA di Kebumen pada tahun tersebut.
Kedatangan Bung Karno dan Isterinya (Inggit) di Kebumen pada tahun 1930 dalam rangka seminar buta huruf (kini lokasi seminarnya menjadi TK Trisula, sedangkan tempat menginapnya menjadi TK Bustanul Atfal; kisah lengkapnya di artikel berjudul “Berburu Jejak Soekarno#1”) juga dimanfaatkan Dwidjosoedarmo untuk berkomunikasi dalam rangka perjuangan di Kebumen. Kedekatannya dengan Bung Karno pun diketahui oleh Polisi Belanda. Malang, ia kemudian ditangkap dan dijatuhi vonis hukuman pembuangan di Boven Digoel (tempat pembuangan pejuang di Papua/Irian Barat). Nasib baik masih menyertainya. Atas pertolongan “Ndoro Patih” Kebumen, Dwidjosoedarmo tidak jadi dibuang ke Boven Digoel dan hanya dipindahkan ke pelosok yakni di desa Banjurpasar. Keadaan tersebut membuat Dwidjosoedarmo terpaksa membeli kendaraan dokar dan dua ekor kuda untuk berbagai aktivitasnya termasuk kegiatan mengantar anak – anaknya sekolah di Kebumen. Ia pun mempekerjakan seorang kusir dan seorang tukang rumput untuk mengurusnya. Selain itu seorang babu (istilah jaman Belanda) dipekerjakan untuk membantu memasak, mencuci dan sebagainya.

Mengenyam Pendidikan Sejak Kecil
Heru Subagyo Tjiptohadikusumo terlahir dari pasangan R. Sadimin Dwidjosoedarmo dan Soertinah binti Madmoertama. Ia dilahirkan di Kebumen (Trukahan) pada 16 Oktober 1926. Pada tahun 1941 semasa penjajahan Belanda masih berkuasa, Heru Subagyo menyelesaikan pendidikan di H.I.S. (Holland Inlandse School) di Bandung. Pada tahun 1942 Jepang masuk dan menguasai Indonesia menggantikan pemerintahan Belanda. Pada tahun itu pula Heru meneruskan sekolahnya di Pendidikan Kogyo Gako di Kebumen. Pada tahun 1943 ketika diadakan pembukaan Akademi Pendidikan Heiho Teknik di Jakarta, Heru diterima di akademi tersebut dan menempuhnya hingga tahun 1945 (sampai dibubarkannya Heiho).
Meskipun kemerdekaan Indonesia telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia masih berperang dengan Belanda yang ingin menjajah kembali. Pada tahun 1946 ketika usianya menginjak 20 tahun, sebagai pemuda bangsa Heru Subagyo ikut aktif mempertahankan kemerdekaan. Ia masuk dalam Batalion X di Yogyakarta. Pada tahun 1947 dari Batalion X di Yogyakarta ia ditarik ke Divisi Ronggolawe di Cepu dengan panglimanya Pangeran Jatikusumo (Jenderal TNI Jatikusumo; makam Imogiri).

Beberapa Kali Selamat dari Maut
Pada tahun 1948 terjadi pemberontakan PKI Muso di Madiun (Jawa Timur). Ketika itu Heru yang telah berusia 22 tahun dan rekan – rekan tentara lainnya dimasukan di Hutan Jati Blora untuk menghadapi Belanda dan gerombolan PKI Muso. Dikisahkan bahwa pada suatu hari, Heru seorang berjalan seorang diri tanpa senjata menuju puncak sebuah pegunungan. Dari arah yang berlawanan ia melihat seorang anggota PKI Muso berseragam hitam berikat kepala merah bersenjatakan samurai (senjatanya opsir Jepang). Keyakinan kepada Tuhan yang sangat kuat membuat Heru selamat saat berpapasan tanpa ada kontak fisik sedikitpun, sementara beberapa temannya telah terbunuh oleh anggota PKI Muso yang berada di hutan yang sama. Peristiwa ini besar kemungkinan disebabkan oleh segannya anggota PKI tersebut kepada Heru yang kebetulan pada waktu itu diangkat anak oleh kepala perampok yang tinggal berumah tangga di tengah hutan tersebut.
Pada tahun yang sama ayah Heru Subagyo menjabat sebagai Kepala Sekolah di Kebumen. Pada saat itu ia bergabung dengan CPM dan diberi tugas menjadi telik sandi (intel) di daerah pendudukan Belanda di Cilacap. Beberapa hari tidak ada kabar,adik Heru menanyakannya kepada CPM. Mendapat jawaban belum adanya kepastian, maka ia pun segera mengirim surat kepada Heru agar segera pulang ke Kebumen. Setelah berada di Kebumen, Heru segera menghubungi Komandan CPM dan tetap saja belum ada kepastian mengenai keadaan ayahnya. Dari CPM Heru hanya diberi beras dan uang Ori.
Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan Agresi Militer II. Serangan militer menggunakan konvoi kendaraan tempur, truk dan kereta api tersebut dari arah barat dimulai dengan melanggar garis status quo/demarkasi Kemit menuju ke Yogyakarta melalui jembatan Kereta Api Panjer (Jembatan Renville). Semua warga Kebumen oleh Kapten Gunung diinstruksikan untuk mengungsi menyelamatkan diri. Termasuk R.Siswodihardjo, seorang pengajar (calon mertua dari Heru Subagyo) dan keluarga yang tinggal di Panjer sejak tahun 1941 membeli rumah milik tentara Belanda pun mengungsi ke selatan. Ketika itu calon isteri Heru (Enny Siswati) masih duduk di bangku SLTP. Pabrik Minyak Kelapa Mexolie (pada awal didirikan tahun 1850 an dengan nama “NV. Oliefabrieken Insulinde” kemudian diswastakan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1915 dengan nama “Mexolie”; pada tahun 1942 diambil alih oleh pemerintah Jepang) yang sejak proklamasi 17 Agustus 1945 diambil alih oleh Tentara Indonesia dan dijadikan markas pertahanan dari Batalyon III/64 Kedu Selatan kembali diduduki pasukan Belanda dan kemudian dijadikan sebagai markas KL (Koninklijk Leger/Tentara Kerajaan Belanda). Empat pejuang (dua orang TNI dan dua orang barisan Pemuda Minyak) yang tengah melaksanakan bumi hangus Mexolie tertangkap dan dieksekusi di lapangan tenis (baca artikel “Lapangan Tenis Mexolie Panjer” dan “Jembatan Renville Panjer”). Sementara itu penduduk Kebumen yang berada di sekitar Trukahan mengungsi ke utara. Mengingat ayahnya tidak diketahui keberadaannya sedangkan ia hanya bersama ibu dan adik – adiknya yang masih kecil, Heru yang baru pulang dari Blora memutuskan untuk tidak mengungsi. Ia benar – benar pasrah akan hidup dan matinya kepada Allah Swt. Keyakinan Ketuhanan yang kuat inilah yang kembali menyelamatkan Heru dari maut untuk kedua kalinya. pada suatu malam terdengar suara tembakan pejuang RI dari balai desa Kebumen yang berada di sebelah utara rumah Heru ke markas KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) yang berada di Gedung Bunder (depan Hotel Putra). Keesokan harinya tentara KNIL bersenjatakan laras panjang lengkap dengan bayonetnya masuk ke dalam rumah – rumah warga Trukahan yang telah ditinggal mengungsi untuk mencari para pejuang yang mungkin bersembunyi. Tidak luput pula rumah Heru Subagyo yang selalu tertutup rapat  digeledah. Akhirnya diketahuilah bahwa rumah tersebut berpenghuni.
Heru pun digelandang oleh Kopral KNIL untuk dibawa ke komandan I.D (Inlichting Dienst) di markas I.D yang berada di gedung yang kini menjadi Losmen Pusaka Panjer (dahulu bernama gedung Theresia). Saat digelandang, komandan KNIL yang kebetulan melihatnya segera menginstruksikan kepada kopral untuk tidak membawa Heru ke markas I.D melainkan ke markas KNIL. Dengan bahasa Belanda Komandan KNIL menanyakan tentang keluarga Heru. Setelah mengatahui bahwa ia hanya bersama ibu dan adik – adik perempuan yang masih kecil, Heru pun dianggap sebagai anak dari Komandan KNIL tersebut. Ini berarti untuk kedua kalinya Heru selamat dari maut, sebab semua pemuda yang tertangkap dan di bawa ke kantor I.D di Panjer pasti segera dieksekusi di jembatan Kereta Api Panjer (Renville) atau di jembatan Tembana dengan terlebih dahulu disuruh berlari menuju lokasi diikuti algojo KNIL asal Ambon yang sangat terkenal kejam di kota Kebumen bernama Mahani yang bersepeda dan membawa senjata. Hal ini dialami pula oleh dua orang pemuda yang tertangkap bersamaan dengan Heru. Kedua orang tersebut dibiarkan komandan KNIL untuk dibawa ke markas I.D dan selanjutnya disuruh berlari ke utara menuju jembatan Tembana, sementara Heru bernasib baik karena dibawa ke markas KNIL.
Komandan KNIL membuktikan kejujuran cerita Heru dengan menyuruh Kopral membawa adik – adiknya yang di rumah ke kantor KNIL. Setelah melihat adik – adiknya yang masih kecil, Komandan tersebut makin terharu karena di kota Kebumen tidak ada yang berjualan sementara itu Heru dan keluarga hanya bertahan dengan hasil bumi seadanya yang mereka punya di rumah dan pekarangannya. Komandan itu pun kemudian meminta adiknya untuk mengambil roti tiap hari ke markas KNIL. Pernah pada suatu hari karena hujan, adik Heru tidak mengambil roti hingga petang. Tak disangka Komandan KNIL datang membawa roti ke rumah Heru. Meski telah mengetuk pintu beberapa kali akan tetapi belum dibukakan pintunya, Komandan tidak mau masuk rumah. Heru pun heran dengan sikap Komandan tersebut karena ia telah diaku anak dan keperluannya adalah mengantarkan roti, mengapa tidak masuk saja. Ternyata itu adalah sikap menghormati yang juga lazim di Belanda.

Kembalinya MEXOLIE Kebumen
Setelah diadakannya perundingan KMB (Konfrensi Meja Bundar) antara Pemerintah Indonesia dan Belanda maka pada bulan Desember 1949 tidak ada lagi peperangan. Salah satu hasil dari kesepakatan damai adalah semua perusahaan Belanda yang dikuasai oleh Pemerintah Indonesia pada awal kemerdekaan harus dikembalikan lagi kepada Belanda. Pada bulan Desember 1949 saat militer Belanda akan meninggalkan Indonesia, Heru dipanggil oleh Komandan KNIL dan ditanya apakah ia akan meneruskan karirnya di tentara ataukah akan mencari pekerjaan lain. Sebelum pulang ke Kebumen pada tahun 1948 Heru sendiri akan dijadikan Komandan PDM (kini Kodim) di Blora, sedangkan temannya kemudian menjadi komandan PDM di Bondowoso. Heru pun memilih mencari pekerjaan lain. Komandan KNIL kemudian membuat surat pengantar untuk Heru dan menyuruhnya agar melamar di Perusahaan Mexolie yang kebetulan pada saat itu akan ada kunjungan dari direksi Mexolie Belanda ke Kebumen dalam rangka persiapan beroperasinya kembali Mexolie.
Mulai 1 Januari 1950 Perusahaan Mexolie resmi dikembalikan lagi kepada Pemerintah Belanda (Pada tahun itu pula setelah militer Belanda kembali ke negerinya, semua tawanan Belanda dibebaskan termasuk ayah Heru Subagyo). Pejabat Belanda dari Jakarta datang ke Kebumen meninjau Mexolie yang masih terbengkalai dan kosong begitu juga wilayah di sekitarnya karena warga Panjer belum kembali dari pengungsian. Heru yang mengetahui adanya Pejabat Belanda yang datang di Panjer segera membawa lamaran dengan surat pengantar dari Komandan KNIL. Perusahaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja untuk beroperasinya kembali pabrik segera menerima Heru apalagi melihat surat pengantar yang dibuat oleh Komandan KNIL (orang Belanda asli). Heru pun menjadi satu – satunya tenaga inti Indonesia yang diterima di Perusahaan Mexolie (tenaga lain dengan buruh atau kuli). Penguasa (Administratur) perusahaan mempercayakan penuh kepadanya untuk merekrut pekerja. Mantan pekerja (kuli, tukang dan mandor) Mexolie ia utamakan. Setelah jumlah pekerja memenuhi syarat maka pada tanggal 3 Juni 1951 Heru pun memimpin upacara pembukaan kembali Perusahaan Mexolie disaksikan pejabat Belanda dari Jakarta. Pada waktu itu ia berusia 24 tahun. Tradisi menanam kepala Kerbau dan mengarak sesaji di dalam pabrik pun tidak ia lupakan. Pertunjukan wayang kulit yang berfungsi sebagai ruwatan digelar di garasi Truk Mexolie. Beberapa bulan setelah pembukaan, pabrik mulai beroperasi (“giling”) dan lancar. Heru menjabat sebagai Kepala Bagian Produksi Mexolie. Sementara semua posisi lainnya dijabat oleh orang Belanda. Dari para Belanda itulah ia diajari bagaimana cara menghitung “Rendemen” minyak. Kemampuannya itu membuatnya akan dipindahkan ke Mexolie Banyuwangi sebagai tenaga handal perusahaan akan tetapi ia menolak dan lebih memilih di Kebumen.

Jagoan Tenis Mexolie
            Untuk mengisi hiburan, para pejabat Belanda di Mexolie mengadakan olah raga Tenis. Saat itu belum ada orang Indonesia di Kebumen yang bermain tenis. Heru adalah satu – satunya pejabat pribumi yang ikut bermain tenis. Tenaga pengambil bola (istilah waktu itu “Kacung”) adalah saudara Heru sendiri yang bernama Alireja. Meski menjadi kacung, Alireja rajin meminta dilatih tenis oleh Heru menggunakan raket buatan dari papan. Ia pun menjadi saksi bagaimana Heru menjadi jagoan tenis yang mengalahkan semua Belanda dan seorang Menado. Selain jago tenis, Heru yang terbukti memiliki kwalitas kepemimpinan di pabrik dimintai bantuannya oleh lurah Panjer yang dijabat oleh Pak Bono (lurah saat itu sudah menjadi sebutan lazim bukan kepala desa) untuk memimpin Bamudes (Badan Musyawarah Desa).

Pernikahan Keluarga Pendidik
Pada tanggal 7 April 1956, Heru Subagyo dengan Rr. Enny Siswati, putri dari R. Siswodihardjo Kepala Sekolah SD Kebumen (dahulu Kebumen baru berdiri satu SD). Ayah Heru sendiri ketika itu menjabat sebagai Kepala Sekolah di Jatisari. Saat menikah, Isteri Heru pun telah menjadi seorang guru di Sumberadi.

Kondisi Transportasi di Kebumen
            Hari Minggu Legi, tanggal 21 April 1957 bertepatan dengan peringatan hari Kartini, Heru Subagyo dianugerahi putra pertamanya. Pada saat itu di Kebumen belum ada kendaraan roda empat maupun roda dua untuk umum maupun pejabat pemerintah. Seorang Asisten Wedana (sekarang Camat) masih menggunakan sepeda. Untuk menjemput isteri dan bayinya dari rumah sakit, Heru diberi pinjaman mobil dari Administrateur Mexolie.
Isteri Heru telah dipindah tugas di SD Panjer. Di Kebumen belum ada kendaraan roda empat maupun Bus untuk disewa. Untuk keperluan darmawisata anak – anak SD Panjer ke Borobudur dan sekitarnya digunakan Truk pinjaman dari Mexolie yang sehari – hari digunakan untuk mengangkut drum berisi minyak kelapa, bungkil, maupun kopra.
Nasionalisasi Mexolie
            Pada tahun 1958 semua perusahaan yang pada tahun 1950 diserahkan ke Pemerintah Belanda dinasionalisasi. Termasuk Pabrik Mexolie Kebumen yang langsung dikelola oleh pusat di bawah Badan Penguasaan Industri dan Tambang disingkat BAPIT (dalam perkembangannya menjadi BUMN). Mexolie pun berubah nama menjadi “Nabati Yasa”. Seperti halnya proses nasionalisasi perusahaan Belanda lainnya, pengambilalihan Mexolie Kebumen dari Pemerintah Belanda ke Pemerintah Indonesia dilakukan oleh Penguasa Militer sebagai pemerintahan tertinggi pada bulan Januari 1958 dipimpin oleh Mayoor Soedjono. Nabati Yasa yang pada masa kemerdekaan telah diduduki Militer Indonesia dan dijadikan Markas Batalyon 64 hingga terjadinya Agresi Militer Belanda II kembali dijadikan markas PDM (dalam perkembangannya berubah nama menjadi Kodim). Direktur pertama Nabati Yasa dijabat oleh Mayoor R. Soedjono sedangkan Heru tetap menjabat sebagai Kepala Produksi. Pada masa ini Heru berhasil membongkar sindikat penggelapan minyak di Nabati Yasa. Setiap akhir bulan, tugasnya adalah menghitung Rendemen minyak. Jika Rendemen turun, maka ia bertanggung jawab atas larinya minyak tersebut. Pernah terjadi dalam satu bulan diketahui bahwa Rendemen minyak turun. Heru membawa beberapa kuli (pekerja) pada malam hari untuk masuk ke gudang tempat penyimpanan minyak yang telah dikemas dalam drum. Ia pun menyuruh mereka menimbang satu persatu drum berisi minyak tersebut. Diketahuilah bahwa semua drum melebihi ketentuan isi minyak, tidak sesuai dengan aturan dalam daftar pengiriman. Paginya Heru melaporkan peristiwa tersebut kepada administratur yakni Mayoor Soedjono. G. Loth seorang mandor asal luar Jawa yang melakukan penyelewengan segera dipanggil dan diberi surat pemecatan.

Sahabat Karib Sarbini
Pasca Nasionalisasi, buruh (istilah sekarang karyawan) Nabati Yasa mulai mengenal olah raga Tenis. Dari semua yang ada, Heru belum bisa terkalahkan dalam permainan ini. Termasuk sahabat karibnya yakni Sarbini (terakhir Jenderal TNI) yang pada waktu itu masih menjabat sebagai Panglima Divisi Diponegoro dengan pangkat Perwira Menengah (Letnan Kolonel). Sarbini selalu mengajak “Dek Heru” (panggilan akrab Sarbini kepada Heru Subagyo) untuk bermain tenis di lapangan Nabati Yasa setiap ia pulang cuti di desa Endrosari tanah kelahirannya. Kebetulan saat itu Heru Subagyo dan keluarga menempati rumah Mess pabrik di sebelah utara lapangan tenis (kini rumah dinas Dandim 0709 Kebumen).
Meski semakin jarang bertemu, persahabatan Heru dan Sarbini tetap baik. Ketika Sarbini akan mengikuti pendidikan SESKOAD di Bandung dan harus naik kereta api di Kroya (karena tidak berhenti di Kebumen), Heru menjemput Sarbini di rumahnya di Endrosari dan mengantarnya hingga ke Kroya menggunakan kendaraan Nabati Yasa.

Masa Keemasan Nabati Yasa
            Pergantian Pimpinan Nabati Yasa dari Mayoor Soedjono kepada Kapten Soenandar (Direktur kedua pasca Nasionalisasi Mexolie) terjadi pada tahun 1961. Masa ini dapat dikatakan sebagai masa keemasan Nabati Yasa. Ibu Soenandar adalah mantan pendidik sehingga di Nabati Yasa ia mendirikan TK dan SD menggunakan gedung yang dahulu digunakan untuk anak – anak Belanda di Mexolie (kini TK PMK Sari Nabati yang telah dihancurkan). Berhubung isteri Heru juga seorang guru, maka kelancaran jalannya TK dan SD diserahkan kepadanya. Pendidikan TK dan SD pada awalnya menggunakan satu gedung, tetapi dalam perkembangannya dikarenakan semakin banyaknya murid SD maka kegiatan belajar SD dipindah di sebelah timur pabrik (kini menjadi SD Panjer Negeri 5; inilah embrio berdirinya SD Negeri Panjer 5).
Selain kegiatan pendidikan Nabati Yasa, Kapten Soenandar selaku Penguasa Pabrik juga membentuk HANSIP. Heru pun dikirimnya ke Yogyakarta untuk mengikuti kuliah latihan Supervisor dari Departemen Perindustrian. Ia lulus dengan baik setelah berhasil menyelesaikan ujian praktek dari dosennya yang langsung ke Kebumen disaksikan oleh Kapten Soenandar. Melihat kemampuan Heru, Kapten Soenandar kemudian menunjuknya sebagai pelatih buruh (kuli dan tukang) menjadi “Barisan HANSIP Nabati Yasa”. Keseriusannya dalam melatih berhasil baik bahkan kemudian Barisan HANSIP Nabati Yasa dikenal seperti Barisan Hitler (Jerman). Selain buruh pabrik, Heru pun ditarik oleh Kecamatan untuk melatih pegawai Pemerintah Daerah (Pemda) dimana anggotanya tidak hanya laki – laki saja tetapi juga pegawai perempuan termasuk isterinya sendiri.
Sekali lagi, bahwa di masa kepemimpinan Kapten Soenandar, Nabati Yasa mengalami kemajuan pesat. Diadakan program pemberantasan Buta Huruf di lingkungan pabrik. Peserta laki – laki langsung dalam bimbingan Heru sebagai pengajar, sementara peserta perempuan dalam bimbingan isterinya. Heru dan isteri sibuk terlibat kegiatan perusahaan dan desa serta undangan dari DPRD, Instansi Pemerintah dan SATTUNGGAL (Bupati, Pengadilan, Kejaksaan,Kepolisian).

Ujian Berat Sebuah Kejujuran
            Pada tahun 1964 terjadi pergantian Direktur Nabati Yasa. Pada suatu hari Heru dipanggil Direktur diruang kerjanya yang letaknya terpisah dengan ruangan pegawai kantor. Tak disangka ia mendapat perintah untuk menyisihkan minyak di belakang koma dari Rendemen. Misal Rendemen ada 16,7% maka yang 0,7% diperintahkan untuk disisihkan dan tidak dimasukkan ke dalam pembukuan. Perintah ini tidak hitam di atas putih (Zwart Op Wit). Sebagai Penanggung jawab Produksi Heru pun menolaknya dengan tegas. Kejujuran dan keyakinannya kepada Tuhan ia pegang teguh dan diyakini sebagai suatu hal yang selama ini telah menyelamatkan hidupnya.
Sebagai orang pertama pasca kembalinya Mexolie, tugas Heru memang tidak ringan. Selain bertanggung jawab atas produksi dan keamanan minyak, ia juga harus menjaga keamanan situasi kerja di pabrik. Tidak jarang terjadi perselisihan antarkuli, tukang dan mandor. Pernah terjadi perselisihan karena salah paham antara mandor dan pekerja baru pindahan dari Makasar bernama Azis mangawing. Di tempat asalnya ia telah banyak membunuh orang sehingga kemudian dipindah ke Nabati Yasa Kebumen. Pada saat itu Azis membawa belati. Heru segera di hubungi via telepon oleh Direktur agar segera mengatasi perselisihan tersebut. Dengan pengalamannya yang telah beberapa kali selamat dari maut, ia pun segera bertindak. Azis dibawanya ke sebuah gudang kosong dan diberi nasehat dengan penuh kesabaran. Heru pun berjanji bahwa Azis tidak akan dipecat. Akhirnya pekerja baru itu tersentuh hatinya. Mereka berdua kemudian menghadap kepada Direktur dan permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Semenjak saat itu Heru dianggap saudara oleh Azis Mangawing. Persaudaraan mereka sangat erat. Bahkan pada saat ayah dari Azis meninggal dunia di Kebumen, Herulah yang mengurus segala sesuatunya hingga pemakaman.
Waktu terus berlalu, Direktur baru masih tetap menginginkan agar Heru menyisihkan angka di belakang koma Rendemen minyak. Berbagai upaya dilakukan Direktur agar Heru bersedia melakukan itu. Pada suatu hari Heru dipanggil ke rumah Direktur secara kekeluargaan dengan jamuan hidangan bermacam – macam. Pada awalnya pembicaraan berlangsung santai akan tetapi pada akhirnya kembali Direktur menekankan agar Heru bersedia menyisihkan minyak. Dengan tegas ia menolak perintah tersebut. Pembicaraan menemui titik buntu. Beberapa kali menolak perintah, Direktur pun mencari alasan kesalahan untuk memecat Heru. Ia sadar bahwa setiap manusia mempunyai kesalahan, akan tetapi Heru pun yakin bahwa kesalahan yang dituduhkan Direktur belum tentu bisa dijadikan alasan untuk memecatnya.
Pada akhirnya keluarlah surat Pemecatan dari Direktur Nabati Yasa untuk Heru Subagyo. Sesampainya di rumah, Heru memberitahukan perihal tersebut kepada isterinya. Hari itu juga Heru pergi ke Semarang guna melaporkan perihal yang telah terjadi kepada Direktur Utama Mayoor Soenandar. Setelah Direktur Utama mengetahui laporan tersebut, untuk sementara Heru ditugaskan bekerja di pabrik Semarang. Ia difasilitasi tinggal di hotel serta kendaraan antar – jemput kerja. Beberapa hari kemudian Mayoor Soenandar datang ke Nabati Yasa Kebumen untuk melakukan pemeriksaan berdasarkan laporan dari Heru. Karena semua yang dilaporkan Heru terbukti benar, maka ia pun diangkat kembali dengan kedudukan yang sama di Nabati Yasa Kebumen. Untuk memastikan keamanan Heru, Mayoor Soenandar juga mengirimkan seorang CPM (Nyoto) dari Jawa Timur di Pabrik Kebumen.
Pada tahun 1965, di Kebumen diadakan pendaftaran mahasiswa Perguruan Tinggi UNTAG bagi lulusan SMA dan Pegawai. Meskipun Heru telah berkeluarga dan dianugerahi enam orang anak, semangatnya untuk terus menambah ilmu pengetahuan tidaklah berhenti. Ia pun ikut mendaftarkan diri. Semua syarat termasuk perploncoan dan lain – lain dijalankan. Ketua panitia pendaftaran pada saat itu adalah Kepala Pengadilan Kebumen, Setyo Harsoyo, SH. Pada suatu hari ketika perkuliahan tengah berlangsung, datang seorang dosen dan membacakan hasil karangan dari mahasiswa terpilih yang mana itu merupakan karangan dari Heru Subagyo. Setelah perploncoan selesai maka Panitia Penerimaan Mahasiswa memutuskan bahwa dari ratusan peserta yang ada, Heru Subagyo terpilih sebagai “KING”, sedangkan putri dari Kepala Kejaksaan Kebumen, Suwito, SH sebagai “QUIN”. Pelantikan Mahasiswa baru dilakukan di Gedung Bioskop Widodo (Star Bodol; kini Bank Danamon) oleh Bupati Kolopaking.

Kepasrahan Menghadapi Ujian Fitnah
            Pada tanggal 30 September 1965 terjadi peritiwa pemberontakan oleh PKI yang kemudian dikenal dengan G.30.S.PKI. Adanya peristiwa ini dimanfaatkan oleh Direktur Nabati Yasa yang pada saat itu tidak berhasil memecat Heru untuk memfitnahnya. Heru yang pernah ikut menumpas pemberontakan PKI Muso di Madiun tahun 1948 ketika ia masih dalam kemiliteran kini dituduh sebagai aktivis PKI hanya karena menjadi membawahi semua buruh pabrik di Nabati Yasa. Di sisi lain, Direktur melindungi salah seorang karyawan yang merupakan aktivis PKI sejak tahun 1948 karena ia mau diajak kerjasama dalam memanipulasi laporan produksi minyak perusahaan. Heru pun dikirim ke kantor polisi. Di sana ia menceritakan kronologi yang menyebabkan ia difitnah oleh Direktur. Kapolres Comisaris Daim (orang Medan) yang mengetahui keadaan tersebut pun menolong Heru agar tidak dikeluarkan dari Nabati Yasa. Karena khawatir Direktur mengancam jiwa Heru dengan kekuasaan R.P.K.A.D yang sedang ganas – ganasnya, maka Kapolres memerintahkan kepada Inspektur Muhadi agar sementara Heru dititipkan ke Ajun Inspektur di asrama Kepolisian. Heru dianggap anak oleh keluarga Ajun Inspektur. Begitu pula jika isteri dan enam anaknya menjenguk, diterima dengan baik sebagai keluarga. Heru diperlakukan sangat baik di asrama Kepolisian termasuk oleh anggota lain diantaranya agen polisi Sumantri.
Setelah beberapa waktu dititipkan di asrama Kepolisian, Heru pun dijatuhi vonis hukuman dibuang di Boven Digoel (Papua). Kapten Masduki (Panjer) yang bertugas menangani masalah tahanan PKI sangat tahu betul keadaan yang menimpa Heru Subagyo. Ia kemudian menolong Heru dengan merobek surat vonis pembuangannya ke Boven Digoel dan meyakinkan bahwa ia akan tetap di Kebumen.
Akhirnya Heru Subagyo dikirim ke Lembaga Pemasyarakatan Kebumen. Semua pakaian diperiksa. Sebagian yang terlarang seperti ikat pinggang, jam tangan dan cincin disimpan di Kantor LP. Namun Heru tetap diperbolehkan memakai cincin. Ia diperlakukan istimewa baik oleh penjaga maupun oleh napi (tahanan) dan tawanan. Perbedaan napi dan tawanan pada saat itu adalah pada hal makanan. Jika napi mendapat makanan dari LP, untuk tawanan dirangsum dari keluarga dengan terlebih dahulu digeledah di penjagaan untuk menghindari adanya surat maupun tulisan rahasia yang sengaja diselipkan dalam rangsum tersebut. Hari – hari penuh kepasrahan dilalui Heru di dalam LP selama kurang lebih tiga tahun hingga akhirnya ia dibebaskan pada tahun 1968.

Pageblug di Panjer
Pada tahun 1967 desa Panjer mengalami pageblug berupa wabah penyakit yang menyerang anak – anak. Banyak anak yang meninggal dunia teserang penyakit. Ada pula kakak beradik yang meninggal dunia. Termasuk pula anak ke enam Heru (putri) yang masih berusia 4 tahun.

Kilas balik 5 Oktober Sebagai Hari Lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI)

Penegakkan Kedaulatan
Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak akan berarti jika kekuasaan pemerintah masih berada di tangan Jepang. Pada waktu itu Jepang memang masih merasa menguasai pemerintahan. Tentaranya masih bersenjata (untuk daerah Kedu Selatan, tentara-tentara Jepang berada dalam kesatriaan – kesatriaan PETA, instansi pamong praja, pabrik – pabrik, serta lembaga tertentu meski jumlahnya tidak banyak). Dengan demikian, hal yang mutlak harus segera dilakukan adalah merebut senjata dan peralatan militer dari tangan Jepang.


Pengambilalihan Kekuasaan dari Tangan Jepang
Secara formal, Jepang sudah tidak mempunyai kekuasaan lagi di Indonesia sejak menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Namun, dalam kenyataannya Jepang masih berkuasa atas pemerintahan hingga waktu penyerahan secara resmi kepada Sekutu. Adanya keadaan tersebut menimbulkan suatu gerakan pengambilalihan kekuasaan oleh para pejuang RI dari berbagai elemen terhadap pemerintah Jepang baik sipil maupun militernya secara serempak di berbagai wilayah di Indonesia.
Pengambilalihan kekuasaan dari tangan Jepang khususnya di Kedu Selatan adalah sebagai berikut:
  1. Pada jajaran Kepolisian yang justru merupakan satu-satunya instansi bersenjata, pengambilalihan berlangsung dengan baik tanpa pertumpahan darah. Hal tersebut terjadi karena Jepang yang bertugas di tubuh Kepolisian termasuk golongan yang mengikuti realita. Maka, jadilah Polisi Jepang menjadi Polisi RI yang ditandai dengan diturunkannya bendera Jepang dan dikibarkannya Sang Merah Putih.
  2. Dalam tubuh pamong praja yang pada tiap kabupaten ditempatkan seorang opsir (biasanya berpangkat Mayor) pun tidak beraksi, sehingga pengambilalihan kekuasaan berlangsung sesuai dengan naskah Proklamasi yang menyatakan bahwa “Hal – hal yang mengenai pemindahan kekuasaan diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya”.
Seperti halnya pada jajaran Kepolisian, jajaran Pamong Praja dari Bupati, Wedana, Asisten Wedana, sampai dengan Lurah berikut para pegawainya, otomatis menjadi Bupati, Wedana, Asisten Wedana, Lurah, dan Pegawai Republik Indonesia. Dengan demikian terbentuklah Kabupaten, Kawedann, Asistenan, Kelurahan Republik Indonesia, ditandai dengan dikibarkannya Sang Merah Putih.
  1. Pada jajaran pemerintahan lainnya yang terdiri dari dinas – dinas dan jawatan, seperti: Pekerjaan Umum, Kesehatan, Jawatan Kereta Api, Pendidikan dan Pengajaran, Pertanian, Perekonomian, dan Kehewanan, pengambilalihan kekuasaan berlangsung dengan seksama dan tanpa kekerasan. Yang terjadi semata – mata hanyalah pergantian nama, yang semula dinas atau jawatan Pemerintahan Bala Tentara Dai Nippon, menjadi dinas atau jawatan Pemerintah Republik Indonesia. Biasanya ditandai dengan dikibarkannya Sang Merah Putih di depan kantor, sehingga pegawai – pegawainya pun otomatis menjadi Pegawai Republik Indonesia. Walaupun demikian, tentara Jepang tidak begitu saja menyerahkan senjatanya dengan sukarela kepada pejuang RI.

Tidak semua pengambilalihan kekuasaan dari Jepang dapat dengan mudah dilakukan. Ada beberapa peristiwa pengambilalihan kekuasaan yang didahului secara diplomasi dengan didukung oleh pasukan siap tempur apabila diplomasi mengalami kegagalan. Misal yang terjadi di Pabrik Minyak Mexolie Kebumen (PMK Sari Nabati di desa Panjer) dan di Pabrik Minyak Olvado Karanganyar.

Dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR)
Dalam suasana siaga menghadapi berbagai kemungkinan sebagai konsekwensi dari Proklamasi 17 Agustus 1945, maka pada tanggal 23 Agustus 1945 keluarlah Seruan Presiden RI sebagai berikut:
“ Saya berharap kepada kamu sekalian, hai prajurit – prajurit bekas PETA, Heiho, dan Pelaut serta pemuda-pemuda lain, untuk sementara waktu, masuklah dan bekerjalah pada Badan Keamanan Rakyat. Percayalah nanti akan datang saatnya kamu dipanggil untuk menjadi prajurit dalam Tentara Kebangsaan Indonesia…”

Berdasarkan seruan Presiden tersebut, segenap jajaran pemerintahan di daerah segera mengadakan pertemuan untuk membahas dan mengambil langkah – langkah lanjutan dengan berpedoman dan memperhatikan petunjuk yang telah digariskan dari tingkat atasnya, antara lain:
  • Badan Keamanan Rakyat (BKR) ditempatkan dalam wadah Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKP) yang dibina oleh Komite Nasional Indonesia (KNI) di daerah – daerah.
  • Tugas BKR adalah menjaga keamanan rakyat setempat.

Rakyat terutama pemuda para bekas prajurit PETA, Heiho, KNIL, Pelaut serta pemuda lain yang tergabung dalam berbagai organisasi kepemudaan dan kelaskaran menanggapi dan menyambut baik Seruan Presiden dengan perasan lega, karena wadah untuk berjuang telah jelas tersedia. Pembentukan melalui berbagai proses dan melalui sejumlah tahapan. Di daerah tingkat kabupaten diadakan musyawarah koordinasi antara bekas Opsir Peta yang tertinggi pangkatnya dengan Bupati dan Kepala Polisi Negara Kabupaten untuk memecahkan berbagai masalah guna melaksanakan Seruan Presiden tersebut, dimana hasilnya sebagai berikut:
  • Segera diadakannya pemanggilan kepada para bekas prajurit PETA, Heiho, Pelaut, KNIL, dan pemuda lain di kampung – kampung atau desa – desa, agar berkumpul pada tanggal dan tempat yang telah ditentukan.
  • Pemanggilan dilakukan oleh Camat ditujukan kepada Kepala Desa/Lurah setempat melalui Kurir Khusus yang pada tiap hari membawa surat-surat dari kecamatan ke desa/kelurahan. Yang dimaksud dengan Kurir Khusus adalah pamong desa yang secara bergiliran dari desanya, tiap hari berdinas jaga (piket) di Kantor Kecamatan, yang sekaligus menjadi Rumah Dinas Camat. Dengan cara ini, berita panggilan cepat sampai pada alamat yang dituju, meski di pelosok dan gunung – gunung sekali pun. Cara pemanggilan itu ditempuh berhubung keterbatasan jumlah radio saat itu.
  • Mengenai konsumsi BKR di tingkat Kabupaten menjadi tanggung jawab Bupati selaku Ketua BPKKP Kabupaten, Wedana untuk tingkat Kawedanan, dan Camat untuk tingkat Kecamatan.
  • Mengenai persenjataan, berasal dari pinjaman Kepala Polisi setempat.
  • Mengenai akomodasi, sejumlah gedung yang ada milik siapa pun sementara waktu boleh digunakan oleh BKR.

Perebutan Senjata Dari Tangan Jepang
Perebutan senjata dari tangan tentara Jepang tidak hanya bertujuan untuk melumpuhkan Jepang, tetapi juga untuk mempersenjatai pejuang Indonesia. BKR maupun barisan – barisan para pejuang lain, terpaksa harus merebut senjata sebagai jalan tercepat guna mempertahankan kemerdekaan bangsa. Peristiwa tersebut terjadi di berbagai daerah antara lain:
  • Pencarian Senjata di Krendetan dan Prembun
Eks Shodancho Sarwo Edhie (Mertua dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono) dan eks Shodancho Sroehardoyo menuju ke Krendetan, tempat pertahanan meriam Jepang yang kuat. Mereka menduga Jepang menyembunyikan senjata di sini. Dengan tekun mereka mencari, tetapi tidak berhasil. Pencarian diteruskan ke Prembun (Kebumen), langsung menuju ke rumah Shidokan yang dikenalinya waktu di pasukan PETA. Dalam sumur, ditemukan satu dus peluru Karaben Steier. Peluru kemudian dibersihkan dan dijemur sambil berharap karebennya ditemukan. Usaha itu gagal, sehingga mereka pun pulang.

  • Perampasan Senjata di Stasiun Kereta Api Kutoarjo
Berita pelucutan senjata Nakamura Butai oleh BKR di Magelang, mendorong Sroehardoyo meneruskan usaha pencarian senjata. Ketika itu Sarwo Edhie telah pindah ke Batalyon A. Yani di Magelang. Sroehardoyo menuju pantai Ayah yang di era Jepang merupakan pertahanan pantai. Ternyata usaha tersebut pun gagal. Saat pulang dengan menggunakan kereta api dari Kroya yang datang dari Jakarta, diketahui bahwa ada satu kompi tentara Jepang yang akan ke Yogyakarta, berada dalam kereta yang sama.
Sroehardoyo duduk di bordes terakhir, memikirkan cara melucuti Jepang. Stasiun demi stasiun sudah dilewati. Gombong, Karanganyar, dan Kebumen, tetapi belum juga menemukan caranya. Tidak seorang pun bisa ditanya. Terlintas dalam pikiran, jika sampai di stasiun Kutoarjo tidak menemukan cara, maka kesempatan memperoleh senjata pun akan hilang.
Ketika kereta akan masuk stasiun, terlihat BKR dan Pemuda Pelajar Kutoarjo siap mengadakan pengamanan. Sudah menjadi ketentuan bahwa bila ada pasukan Jepang yang lewat, harus diadakan pengamanan ketat. Sroehardoyo tergugah. Apalagi dia bertemu dengan eks Chudancho Sarbini di stasiun. Sroehardoyo pun segera mengutarakan maksudnya. Ia sadar jika menggunakan kekerasan akan menemui kesulitan. Maka Sroehardoyo pun menggunakan cara diplomasi yang ternyata disetujui Sarbini.
Perundingan berjalan lancar. Hasil dari perundingan tersebut, Taicho (Pimpinan) Jepang memberi komando “So Juwo desu” (senjata keluarkan). Hanya saja Taicho minta agar perwiranya tetap boleh mempertahankan samurainya. Hampir saja pistol tidak diserahkan. Untung Taicho kemudian menyerahkan 3 pucuk pistol. Dengan lega Sroehardoyo dibantu BKR Kutoarjo dan BKR Kereta Api yang bertugas di stasiun Kutoarjo, antara lain pemuda Soekadaroh, mengurus pengangkutan senjata ke BKR Purworejo. Sedangkan eks Chudancho Sarbini melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur bersama pasukan Jepang.
Senjata rampasan sebanyak satu kompi tersebut merupakan senjata pertama, embrio Resimen XX/Kedu Selatan. Peristiwa menggembirakan tersebut dirayakan BKR Purworejo dengan show of force berkeliling kota bersenjata lengkap dengan sangkur terhunus pada pagi harinya. Mereka membuktikan bahwa BKR bukan lagi “macan kertas” (peristiwa ini menjadi dasar acuan dijadikannya stasiun Kutoarjo sebagai bangunan cagar budaya).

  • Pelucutan Senjata di Kebumen
Pelucutan senjata di Kebumen dilakukan oleh BKR, pemuda, dan pelajar dipimpin oleh eks Chudancho Soedrajat. Dengan kekuatan 400 orang bersenjata bambu runcing dan senjata lain, mereka meruntuhkan mental Jepang. Pelucutan senjata berlangsung tanpa perlawanan. Orang – orang Jepang selanjutnya dimasukkan ke dalam rumah tahanan di penjara Kebumen. Pelucutan senjata di kota Kebumen berlangsung di empat tempat yakni:
1. Pabrik Minyak Kelapa Mexolie Kebumen (PMK Sari Nabati Panjer kebumen).
2. Jalan Pahlawan (sebelah barat kantor BRI).
3. Jalan Kranggan Kebumen.
4. Jalan Aseman/Jenderal Sarbini (sekarang depan Kantor DPU).

  • Pelucutan Senjata di Karanganyar
Pelucutan senjata di Karanganyar berlangsung di Pabrik Minyak Olvado dilakukan oleh BKR dan pemuda berkekuatan 300 orang dengan bersenjata bambu runcing. Pelucutan dipimpin oleh eks Bundancho Bambang Widjanarko dan eks Bundancho Koedoes yang menjatuhkan mental tentara Jepang sehingga penyerahan lima pucuk senjata berlangsung tanpa perlawanan.

  • Pelucutan Senjata di Sumpyuh
Pelucutan senjata di Sumpyuh melibatkan hampir semua pasukan BKR di Kedu Selatan, yakni : BKR Kebumen, Gombong, Kutoarjo, dan Purworejo, dipimpin oleh Daidancho Gatot Soebroto, Koordinator BKR Daerah Banyumas.
Selain pasukan BKR, dalam pelucutan tersebut ikut pula lebih kurang 300 orang pemuda bersenjata bambu runcing. Dengan penuh semangat dan rela berkorban, mereka bergerak bersama BKR Gombong yang dipimpin oleh eks Shodancho Soedarsono Bismo dan eks Shodancho Slamet Soebyakto (sebagai komandan dan wakil komandan peleton). Sedangkan yang menjadi komandan regu adalah eks Bundancho Djoerdjani, eks Bundancho Bagyoto, eks Bundancho Yatiman, dan eks Bundancho Soemarto. Mereka berhasil memperoleh sebuah truk Dodge, sepucuk SMR (Senapan Mesin Ringan), 40 senapan, dan puluhan pakaian seragam Jepang.
Pasukan BKR Kebumen dengan kekuatan satu kompi dipimpin oleh eks Shodancho H. Soegondo dan wakil eks Shodancho Soedarmin. Adapun Komandan Peleton I adalah eks Shodancho Dimyati (terakhir sebagai mantan Lurah Kebumen), Peleton II eks Bundancho Soemari, dan Peleton III eks Bundancho Soegito. Bertindak sebagai Komandan Regu adalah eks Bundancho D.S. Iskandar, eks Bundancho Soediro, eks Bundancho Soenaryo, dan eks Bundancho Solichin. Mereka berhasil memperoleh sebuah sepeda motor, sedan Chevrolet, pick up, 3 buah truk, 3 pucuk SMR, 60 pucuk senapan, dan 15 peti peluru.
Pasukan BKR Kutoarjo dengan kekuatan satu peleton dipimpin oleh eks Shodancho M. Toegiran dengan komandan – komandan regunya eks Bundancho Senoe, eks Bundancho Soedarman, dan eks Bundancho Badroen berhasil memperoleh sebuah truk Australia dan 40 senapan.
BKR Purworejo juga mengerahkan dua peleton pasukan dipimpin oleh eks Shodancho Sanoesi, Seksi I eks Bundancho Soesilo Handoyo, Seksi II eks Bundancho Soewaridjan, dan Komandan Regu diantaranya eks Bundancho Soewandi. Mereka memaki dua truk Ghurka ke Sumpyuh dan berhasil memperoleh lebih kurang 50 senapan pendek yang dipakai PETA.
Sejak saat itu, BKR di Kedu Selatan, baik BKR di Gombong, Kebumen, Kutoarjo, Purworejo kekuatan senjata dan angkutannya bertambah. Hal ini menambah pula rasa percaya diri dan semangat tempur dalam perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.

Dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Kedu Selatan
Dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan para anggota BKR dan pemuda pejuang karena Pemerintah RI belum juga membentuk suatu tentara nasional Indonesia yang resmi. Mantan Opsir KNIL yang berpangkan Mayor di jaman Hindia Belanda, Oerip Soemohardjo pun sampai berkata “Aneh suatu Negara zonder tentara”. Oerip merupakan satu-satunya opsir bangsa Indonesia asli yang mendapat pangkat tertinggi hingga masa berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia pada tahun 1942. Ia lahir di Guron, Sindurejan, Purworejo pada tanggal 21 Februari 1893. Orang tuanya bernama Soemohardjo, seorang mantri guru (cucu dari KRT. Widjoyokusumo Adipati Trenggalek; dengan kata lain Oerip adalah Cicit dari KRT. Poerbonegoro Bupati Ambal Kebumen yang pertama dan terakhir).

Maklumat Pemerintah Tanggal 5 Oktober 1945
Akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah RI mengeluarkan maklumat sebagai berikut:
“Untuk memperkuat perasaan keamanan umum, maka diadakan satu Tentara Keamanan Rakyat”.
Maklumat ini disusul dengan Pengumuman Pemerintah tanggal 7 Oktober 1945 yang berbunyi:
“Ini hari telah dilakukan pembentukan Tentara Kebangsaan di salah satu daerah di Jakarta dengan maksud untuk menyempurnakan kekuatan Republik Indonesia”.

Pemuda-pemuda bekas Peta, Heiho, Keigun, dan pemuda dari Barisan Pelopor telah menyiapkan tenaganya, agar setiap waktu dapat membaktikan tenaganya untuk menentang kembalinya penjajah Belanda. Pemuda-pemuda dan Tentara Kebangsaan itu dengan segera diperlengkapi dengan persenjataan, agar dengan jalan demikian dapat mempertahankan keamanan umum.
Dua hari setelah dikeluarkannya Pengumuman Pemerintah tersebut, segera disusul dengan seruan Mr. Kasman Singadimedja selaku Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang isinya sebagai berikut:
“Untuk menjaga keamanan rakyat pada dewasa ini oleh Presiden Republik Indonesia telah diperintahkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat. Tentara ini terdiri atas rakyat Indonesia yang berperasaan penuh tanggung jawab atas keamanan masyarakat Indonesia dan guna menjaga kehormatan Negara Indonesia.
Pemuda dan lain-lainnya yang tegap sentosa badan dan jiwanya, bekas prajurit PETA, prajurit HIndia Belanda, Heiho, Kaigun Heiho, Barisan Pemuda, Hisbullah, pelopor dan lain-lainnya, baik yang sudah maupun yang belum pernah memperoleh latihan militer supaya selekas-lekasnya mendaftarkan diri pada kantor BKR di ibukota kabupaten masing-masing atau kepada badan-badan lainnya yang ditunjuk oleh Residen (kepala darah) atau wakilnya. Merdeka!!!

Maklumat, Pengumuman Pemerintah dan Seruan Ketua KNIP tersiar ke seluruh negeri. Semakin jelaslah bagi rakyat, terutama pemuda yang sejak awal berniat mengabdikan dirinya untuk berjuang melalui kesatuan bersenjata. TKR mendapat sambutan hangat, tidak hanya dari pemuda yang telah tergabung dalam BKR, tetapi juga pemuda-pemuda lainnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya unsur pegawai negeri, swasta, guru, pelajar, petani, pedagang, dan santri yang tadinya belum masuk ke dalam BKR, berbondong-bondong masuk TKR. Sehingga apabila tidak diadakan pembatasan peneriman saat itu, pasti kekuatan TKR sangat besar.
Kepala Staf Umum TKR, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo menyusun TKR dengan 10 Divisi di Jawa dan 6 Divisi di luar Jawa. Satu di antara 10 Divisi TKR di Jawa adalah Divisi V di bawah pimpinan Kolonel Soedirman (dikemudian hari dikenal sebagai Panglima Besar Jenderal Soedirman) yang berkedudukan di Purwokerto meliputi daerah Kedu, Pekalongan, dan Banyumas.

-          Bengkel Senjata Kebumen
Para pejuang bersenjata di Kedu Selatan terus berupaya keras untuk menambah persenjataan yang dimiliki dengan berbagai cara. TKR Batalyon III Resimen Moekahar Kebumen mengetahui bahwa di ACW Bandung terdapat sejumlah alat dan mesin selain senapan, pistol, mitraliur, granat yang tidak atau belum dipindahkan dan tidak dibumihanguskan. Atas saran Kepala Bagian Persenjataan Batalyon Letnan II Iskandar dan saran teknis Letnan II Tirtohoedoyo, maka Mayor Rahmat, bersama Letnan II Iskandar dan Letnan II Tirtohoedoyo pergi ke Bandung untuk mengambil dan memindahkan alat – alat dan senjata ke Kebumen.
Mereka dikawal oleh satu kompi pasukan yang dipimpin oleh Kapten Soegondo, Letnan I Dimyati (terakhir sebagai Lurah Kebumen), dan Letnan Muda Pratedjo. Pemindahan dilakukan dengan menggunakan truk dan kereta api. Mereka berhasil memindahkan beberapa pucuk senjata, 30 mesin bubut, dan sejumlah alat produksi lain. Alat – alat tersebut kemudian dibawa ke kompleks Sekolah Teknik (ST) Kebumen untuk melengkapi alat-alat yang telah ada sebelumnya dan selanjutnya digunakan sebagai alat memproduksi senjata, baik senjata tajam maupun senjata api, seperti : pedang panjang (model samurai Jepang), pedang biasa, pistol, pistol mitraliur, kaki Senapan Mesin Ringan dan kaki Senapan Mesin Berat untuk Pasukan Anti Serangan Udar (PASU) 12.7 dan M 2.3.
Dengan demikian Batalyon III/Kebumen memiliki bengkel senjata. Senjata – senjata yang dihasilkan digunakan untuk melengkapi persejataan badan perjuangan di Kedu Selatan, agar potensi dan semangat juang meningkat.
Tenaga yang dilibatkan dalam kegiatan produksi senjata terdiri dari:
- 24 orang Guru Sekolah Teknik Kebumen diantaranya; Sanoesi, Haroen, Soedjangi, Dalilan, dan Badaruzzaman.
- 100 orang siswa Sekolah Teknik Kebumen.
- 200 orang personil yang dipindahkan dari Bandung.
Personil dari Bandung pada umumnya telah berkeluarga. Mereka membawa keluarganya tinggal di Kebumen. Keberhasilan produksi senjata di Kebumen merupakan prestasi yang langka. Namun hal tersebut juga menjadi beban bagi kesatuan tingkat batalyon. Karenanya, bertepatan dengan penandatanganan Persetujuan Linggarjati tanggal 25 Maret 1947, atas pertimbangan Resimen dan Divisi, bengkel senjata Kebumen kemudian diserahkan ke Kementerian Pertahanan RI. Begitu juga dengan personilnya, sebagian besar masuk ke TRI (Tentara Republik Indonesia), termasuk siswa di ST Kebumen. Sedangkan guru ST Kebumen kembali bekerja seperti semula.
TKR Batalyon I Moekahar/Purworejo tidak ketinggalan pula berupaya menambah senjata. Senjata yang berhasil diproduksi adalah granat yang terkenal dengan sebutan Granat Gombyok. Granat ini adalah hasil karya Letnan II Soenarto (mantan Sersan KNIL) yang ditugaskan di bagian persenjataan Batalyon I Resimen Moekahar. Granat Gombyok mendapat sambutan dan dukungan baik oleh Komandan Batalyon I Resimen Moekahar Mayor Koen Kamdani dan selanjutnya diproduksi secara masal.
Granat Gombyok pada masanya benar – benar memasyarakat. Bengkel Granat Gombyok di Batalyon I/Purworejo pun akhirnya diserahkan kepada Kementerian Pertahanan RI di Yogyakarta.

Perubahan Nama Dan Peningkatan Status TKR
Berdasarkan Penetapan Pemerintah No. 2 Tanggal 7 Januari 1946, maka nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat (TKR). Ini berarti bahwa Tentara Keamanan Rakyat hanya berumur 93 hari, yakni sejak tanggal 5 Oktober 1945 hingga 7 Januari 1946.

Perubahan Nama TKR menjadi TRI
Berdasarkan Penetapan Pemerintah No. 2 Tanggal 7 Januari 1946 Tentara Keamanan Rakyat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian disusul dengan adanya Dekrit Presiden tanggal 26 Januari 1946, maka nama Tentara Keselamatan Rakyat disempurnakan dan ditingkatkan statusnya menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).














 
















Perubahan TRI Menjadi TNI
Sesuai dengan Keputusan Presiden pada tanggal 3 Juni 1947 Tentara Republik Indonesia (TRI) diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), dimuat dalam Berita Negara Tahun 1947 No. 24.
Sebuah perjalanan panjang kelahiran TNI yang genetiknya murni dari Ruh rakyat Indonesia yang memiliki nasionalisme kuat. Maka tidakah mengherankan jika TNI hingga saat ini tidak bisa dipisahkan dan selalu Manunggal dengan Rakyat.

Dirgahayu TNI ke 68! NKRI Harga Mati! Salam Pancasila!

Kebumen, Sabtu Paing 05 Oktober 2013
Oleh : Ravie Ananda