Tinjauan Geologi Kemunculan Kebumen
Kebumen adalah salah satu kabupaten yang masuk dalam wilayah propinsi
Jawa Tengah di wilayah paling Selatan pulau Jawa dan berbatasan
langsung dengan Samudra Hindia. Dengan kata lain, tidak ada lagi daratan
di Selatan Kebumen, hanya ada Samudra Hindia dan Kutub Selatan. Nama Kebumen yang memiliki arti Kebumian merupakan nama baru dari kabupaten Panjer yang berarti tonggak awal.
Ditinjau dari sisi Geologis, Kebumen merupakan daerah tertua dalam
proses pembentukannya. Daerah ini merupakan daerah Subduksi yang awalnya
merupakan dasar samudra yang kemudian muncul sebagai akibat terjadinya
tumbukan dua lempeng bumi pada 117 juta tahun – 60 juta tahun yang lalu,
yakni lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra Hindia. Salah satu
bukti dari peristiwa alam tersebut adalah daerah Luk Ula
(nama sungai di Kabupaten Kebumen yang dimulai dari kecamatan Sadang
(dahulu masuk dalam wilayah kecamatan Karangsambung sebelum adanya
pemekaran wilayah) menuju ke Selatan hingga bermuara di samudra Hindia).
Sungai Luk Ula pada awalnya merupakan sungai bawah laut, terbentuk pada
masa Pratersier tertua diperkirakan telah berumur sekitar 117 juta
tahun. Nama Luk Ula sendiri didasarkan pada pola alur sungai yang
berkelok – kelok seperti jejak ular yang berjalan, sehingga dinamakan
Luk (Alur) Ula (Ular). Di beberapa bagian sungai ini dimungkinkan
sebagai bekas palung laut yang hingga kini dikenal sebagai “kedung” yang
memanjang. Penelitian tentang Kebumen pertama kali dilakukan oleh Verbeek,
seorang geolog Belanda pada tahun 1891. Ia melakukan penelitian di
wilayah Karangsambung. Hasil penelitian ini baru dipetakan secara
geologi oleh Harlof pada tahun 1933. Penelitian dilanjutkan oleh Sukendar Asikin,
geolog Indonesia pertama yang mengulas geologi daerah Karangsambung
berdasarkan teori Tektonik Lempeng. Bukti – bukti geologis berupa batuan
– batuan kuno di Karangsambung sebagai hasil evolusi bumi antara lain batuan Rijang dan batuan Lempung Merah Gamping. Secara teori, kedua batuan tersebut hanya bisa di temui di dasar lautan dalam. Terdapat pula batuan Basalt Karangsambung
yang merupakan batuan beku yang berasal dari letusan gunung berapi
dasar laut. Karangsambung yang hingga kini terkenal sebagai daerah
penambangan pasir dahulunya merupakan gunung api purba dasar laut sebelum masa pratersier. Ada juga batuan Sepentinite yang merupakan batuan malihan dari perut bumi di bawah lantai samudra. Selain batuan – batuan tadi, tedapat juga batuan Sekismika, fosil
hasil evolusi biota laut seperti ikan, bintang laut, kerang laut,
kepiting, terumbu karang dan lain – lain. Fosil biota darat yang
dimungkinkan ada setelah Karangsambung menjadi daratan pun banyak
dijumpai antara lain fosil: bambu, berbagai tanaman keras seperti jati,
kelapa, buah kelapa dan tanaman pohon – pohon purba lainnya yang usianya
sangat tua dan bahkan memiliki tingkat kekerasan jauh di atas rata –
rata kekerasan batuan umumnya. Para geolog dari berbagai negara pun
banyak yang mengunjungi Karangsambung dimana lokasi tersebut telah
dijadikan laboratorium geologi nasional LIPI dan telah diakui dunia
sebagai lapangan geologi terlengkap di dunia. Lokasi situs geologi ini
sangat luas, mencapai 3 kecamatan yakni kecamatan Karangsambung, Sadang,
dan Karanggayam.
Teori Peradaban
Peradaban manusia muncul dan berkembang pada suatu wilayah daratan.
Berdasarkan tinjauan geologi mengenai terbentuknya wilayah Kebumen, maka
secara logika peradaban manusia telah ada di Kebumen sejak dahulu kala
setelah daratan tersebut muncul, dimana pada masa itu banyak daerah lain
yang belum terbentuk. Kebumen yang merupakan jajaran pegunungan Serayu
Selatan (juga dikenal dengan Kendeng Selatan) berdekatan dengan
Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo yang hingga kini diketahui sebagai
daerah peradaban tua dengan situs – situs purbakala seperti Megalitikum,
candi – candi kuno dan lain sebagainya.
Penelitian dan Penemuan Benda – Benda Purbakala di Kebumen
Penelitian purbakala di Kebumen pertama dilakukan oleh J.H. Houbolt
pada tahun 1939 kemudian dibukukan pada tahun 1940 dan H.L. Movius Jr
pada tahun 1948. Houbolt mengadakan penyelidikan di daerah Kedung Bulus
Gombong dan menemukan alat – alat yang sangat mirip dengan alat – alat
yang ditemukan di daerah Pacitan. Dilihat dari bentuknya yang meruncing,
sebuah di antaranya memperlihatkan sebelah sisi yang rata, dapat
disimpulkan bahwa alat – alat tersebut tergolong dalam jenis kapak
genggam awal. Penelitian dilanjutkan pada tahun 1959 dan dibukukan oleh
H.R. van Heekeren dalam judul “The Stone age Of Indonesia”. Dalam
penelitian pada tahun 1959 itu telah dipungut sejumlah alat dari dasar
kali Kenteng, khususnya di antara desa Kenteng dan Kedung Bulus. Daerah
aliran kali Kenteng terletak di bagian selatan barisan pegunungan Serayu
Selatan yang mempunyai susunan geoantiklin sebagai bekas dari sebuah
kubah yang memanjang dan membentang ke arah timur laut. Susunan sisa –
sisa kubah ini terdiri atas lapisan – lapisan zaman Pratersier dan
Tersier yang mengandung batuan vulkanik, sedimenter, dan metamorfik yang
telah digunakan sebagai bahan pembuatan alat – alat batu seperti batuan
kuarsa, rijang, kalsedon, hornblenda, dan batu lempung. Alat – alat
temuan Gombong ini tampak terkikis dan meliputi beberapa jenis. Ada
kapak penetak dengan tempat berpegang yang cekung, batu martil berbentuk
bundar, dan batu inti yang beberapa di antaranya digunakan sebagai
perkakas dan alat – alat serpih. Sebagian alat – alat serpih
memperlihatkan kerucut pukul yang jelasdan sebuah di antaranya berukuran
besar (panjang 9,9 cm). Penelitian dilanjutkan oleh Basoeki pada tahun
1977 menghasilkan beberapa buah alat paleolitik lagi dari tipe kapak
perimbas dan kapak penetak. Daerah temuan terletak di desa Semali, di
utara daerah temuan tahun 1959.
Lanjutan Penelitian Lokal
Berdasar data tersebut di atas, dilakukan penelitian oleh tim www.Kebumen2013.com
yang dipimpin oleh Ravie Ananda pada tahun 2012 dan 2013 di daerah
aliran sungai Luk Ula tepatnya di wilayah Peniron, Seling, Pucangan dan
Sadang Loning. Tim berhasil menemukan beberapa alat batu yang merupakan
perkakas dan beliung persegi dengan beberapa jenis bahan batuan dan
ukuran serta sebuah cincin batu. Selain artefak tersebut, tim juga
berhasil menemukan gugusan batu Menhir di daerah Sadang Wetan dan situs
purbakala berupa batu – batu berlubang yang sengaja dibuat dengan maksud
tertentu (kemungkinan lebih kepada pemahaman astronomi dan ritual) yang
berada di tebing sungai yang dahulunya disinyalir sebagai palung laut
(wilayah Kedung Pingit). Dalam penelitian tersebut ditemukan pula fosil –
fosil biota laut dan fosil tulang dimana diantaranya telah diteliti
oleh Dr. Erick Setiyabudi (Paleontolog Vertebrata) dan dinyatakan
sebagai gigi gajah purba.
Salam Pancasila!
Kebumen, Jumat Kliwon 18 Oktober 2013
Oleh : Ravie Ananda
Oleh : Ravie Ananda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar